Pada tanggal 1 September 2020, buruh perempuan yang tergabung di Pelangi Mahardhika bersama dengan FBLP melanjutkan aksi Selasaan untuk mendorong disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Mereka melakukan aksi sederhana dengan menggunakan pita warna ungu yang disematkan ke baju mereka. Pita warna ungu menunjukkan solidaritas dan dukungan terhadap korban kekerasan seksual dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Bagi buruh yang hendak menunjukkan dukungan terhadap korban kekerasan seksual dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, agak sulit bagi mereka untuk mengikuti aksi di DPR. Oleh karena itu mereka menggunakan waktu makan siang mereka untuk melakukan aksi di tempat kerja.

Aksi ini tidak lepas dari kerja kolektif Kitty, anggota Pelangi Mahardhika, bersama teman-temannya untuk menyiapkan pita warna ungu. Semalam sebelum melakukan aksi, ia menjahit sekitar 50 pita untuk dibagikan ke teman-temannya di pabrik. Selama ia mempersiapkan atribut aksi, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk mengedukasi sesama teman yang membantunya perihal RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Keesokannya, sewaktu jam makan siang, Kitty mengambil kesempatan tersebut untuk membagikan pita yang telah dijahitnya. Sambil membagikan pita kepada rekan kerjanya, dia menggunakan kesempatan tersebut untuk memberi penjelasan mengenai pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agar segera dibahas.

Walaupun diberikan waktu istirahat selama satu jam untuk makan siang, namun seringkali buruh dikejar target. Jika targetnya tidak dipenuhi maka buruh harus lembur untuk menyelesaikan targetnya. Sehingga tak jarang buruh menggunakan waktu istirahat untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Seringkali, mereka hanya menggunakan 15 menit untuk makan siang.

Dengan waktu yang sangat sedikit, Kitty tetap menyempatkan diri untuk membagikan pita ungu sambil berbagi informasi mengenai pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual untuk segera disahkan. Ia berlarian dari satu divisi ke divisi berikutnya, agar teman-teman dari berbagai divisi mendapatkan pita ungu dan serta mendapatkan informasi yang tepat.

Tak disangka, aksi Kitty mendapatkan perhatian dari teman-teman kerjanya bahkan rekan kerjanya yang lelaki. Hal ini memicu keingintahuan mereka untuk memahami apa itu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Dengan gamblang, Kitty menjelaskan “Jika RUU ini disahkan, kamu tidak akan bisa nowel-nowel saya lagi. Kalau berani, kamu bisa kena denda.”

Kitty juga menyayangkan tentang banyaknya kekerasan seksual yang terjadi di tempat kerja, namun korban banyak yang tak melapor. Tentunya hal ini menjadi kesempatan Kitty untuk membangun dan meningkatkan kesadaran teman-teman tentang isu kekerasan seksual yang terjadi di tempat kerja agar teman-teman berani melawan.

Apa yang dilakukan Kitty tidak hanya dilakukanya sendiri, namun bersama-sama dengan kawan-kawan lainnya. Walaupun aksi ini sederhana dan hanya dilakukan di tempat kerja, namun aksi ini menjadi salah satu medium untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Dan aksi ini tidak berhenti saat makan siang saja, dengan menyematkan pita ungunya selagi kerja, mereka sebenarnya sedang aksi diam-diam.

Karena pita ungu yang diberikan Kitty, banyak yang makin ingin terlibat dengan aksi ini dan ikut meramaikannya. Mereka sangat antusias memperjuangkan dan menyuarakan haknya serta melawan kekerasan seksual di tempat kerja.

Terdapat 50 perempuan buruh yang mengikuti aksi ini. Kedepannya, Pelangi Mahardhika berharap bahwa aksi ini akan terus berlanjut dan tidak berhenti. Oleh karena itu aksi Selasaan akan terus dilaksanakan setiap minggu, satu minggu di luar pabrik dan satu minggu di dalam pabrik.

 

Website | + posts

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.