Pada Minggu, 6 Juli 2025 malam, di Manyosi Wirsi, Manokwari, Papua Barat, kawan-kawan Manokwari berkumpul untuk merawat ingatan tentang peristiwa Tragedi Biak Berdarah 1998.
Tragedi Biak Berdarah merupakan salah satu lembaran kelam dalam sejarah Papua, khususnya di Pulau Biak. Pada 1998, masyarakat Biak dan Papua berkumpul di sekitar Menara Biak untuk mengekspresikan kerinduan akan penentuan nasib sendiri. Mereka menyampaikan aspirasi kemerdekaan sambil mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Namun, aksi damai itu berakhir dengan kekerasan. Sekitar 8 orang ditembak mati, 150 orang ditangkap, disiksa, dan dipenjara. Sebanyak 32 jenazah kemudian ditemukan di Pulau Biak, meski pihak berwenang menyangkal dan mengklaim mereka korban bencana. Tiga orang lainnya hilang tanpa jejak.
Kawan-kawan Manokwari berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para pejuang yang ditembak mati, yang dari hasil investigasi LSM Papua ditemukan banyak nama hilang tanpa pusara (nama tanpa makam), dan makam tanpa nama, serta mengingat, merefleksikan, dan melanjutkan semangat perjuangan yang mereka tinggalkan di bawah Menara Biak.