Eyang, Ceritamu Memacu Perjuangan Saya

“Gerwani, lonte! Nggih ngoten niku yo terus (Baca; Gerwani, pelacur! Ya seperti itu selalu).” Makian itu masih melekat pekat dalam ingatan eyang Suminah. Meski telah 55 tahun tragedi 1965 terjadi, waktu tak mampu menggerus ingatan itu di dalam dirinya. Begitu juga eyang Subekti, pun memanggul luka mendalam. Anak pertamanya lahir di hutan Nanga-Nanga, di Kendari, Sulawesi Tenggara setelah pembebasan. Sebagai kenangan, anaknya diberikan nama Purwanti Nangasari, karena lahir di hutan Nanga-Nanga. Baik eyang Suminah dan eyang Subekti, keduanya adalah perempuan korban 1965 di Jawa Tengah yang baru-baru ini saya temui.

Awal perjumpaan saya dengan korban 1965, yaitu pada akhir tahun 2018. Saya tidak sendiri. Saya bersama tiga teman lelaki. Sejak saat itu sampai sekarang, kami melakukan penelusuran di beberapa kota di Jawa Tengah. Kami mengawalinya dengan mencari nama-nama orang yang kerap memperbincangkan tragedi 1965 di kota kami, Semarang. Kami menyebut mereka adalah key person. Mereka diantaranya adalah aktivis, sastrawan, dan teman kami sendiri yang melakukan riset bertemakan itu, atau yang telah mengetahui di lingkungan terdekatnya juga ada korban 1965. Setelah tersambung dengan satu, dua korban, kami pun semakin banyak bertemu dengan para korban lainnya. Akhirnya, segala sumber kami tampung dan pilah berdasarkan kemampuan kami.

Dalam prosesnya saya teringat sekali, orang-orang (selain korban) selalu menanyakan begini pada saya; “Mengapa ingin bertemu korban 1965?” Tiba-tiba dengan tegas dan tanpa pikir panjang, saya menjawab; “Bagi saya lebih baik segera menuliskan cerita mereka, daripada terburu menuliskan skripsi. Skripsi bisa nanti, masih ada waktu bagi saya meski tidak tepat waktu. Tetapi para pemilik cerita ini adalah orang-orang yang berusia senja. Saya khawatir tidak dapat bertemu.” Agak idealis kedengarannya, tapi begitulah, kadang sesuatu terucap menakik tiba-tiba dan mewakili perasaan begitu saja.

Pada tahun 2018 itu, saya memiliki kegelisahan tersendiri pada hidup saya. Saya merisaukan antara mengejar ambisi diri saya sendiri dengan berpijak pada idealisme atau harus menuruti keinginan orang-orang yang menyayangi saya. Saya putuskan mencari hal yang benar-benar ingin saya lakukan. Saya ingin melakukan sesuatu yang berasal dari diri saya. Meski yang saya rasakan, itu tidak mudah bagi seorang perempuan. Akhirnya, saya membuka segala kemungkinan untuk diri saya.

Saya jeda, dan memilih fokus berproses di luar ruang akademik. Saya tertarik belajar mengenai “Hak Asasi Manusia”. Saya membaca buku kiri, juga buku-buku feminisme. Ada kesimpulan menghujam yang saya dapatkan bahwa setiap kasus pelanggaran HAM apapun itu, korban paling banyak adalah perempuan. Rasa amuk, dan sedih berkelebatan datang mendorong saya berbuat sesuatu, tidak hanya diam. 

Atas semuanya itu, saya menikmati hidup saya. Modal utama saya adalah mendengarkan cerita-cerita eyang dan memposisikannya sebagai sebuah kebenaran. Saya menggunakan ini sebagai pintu pembuka memasuki ruang imajinasi diri saya. Imajinasi menangkap saripati pikiran dan perasaan pemilik cerita, yang kemudian mengendap dalam diri saya. Dari sini, saya pun yakin bahwa perempuan itu mampu melakukan perjuangan dan membuat perubahan.

Mereka Memacu Saya Membangun Kolektif Perempuan

Pada awal melakukan pencarian korban 1965, kami kesulitan mencari korban yang perempuan. Salah satu aktivis 1965 mengabarkan bahwa kebanyakan perempuan korban 1965 di Jawa Tengah masih mengalami trauma dan tidak dapat ditemui. Saya pun mendapatkan kabar dari salah seorang teman, bahwa di Yogyakarta terdapat perkumpulan ibu-ibu korban 1965. Saya penasaran, lalu nekad sendirian datang ke sana. Hingga beberapa kali, saya dan teman-teman mengikuti pertemuan rutinan mereka.

Saya merasa memiliki hari yang istimewa, karena dipertemukan dengan perempuan-perempuan hebat. Di antara mereka ada yang dulunya Gerwani, CGMI, Lekra dan anak korban. Waktu itu saya menginap di rumah eyang Muhayati. Ia dulunya mahasiswi kedokteran UGM yag aktif di CGMI. Eyang Muhayati memutuskan tidak menikah dan tinggal di rumah sendirian. Sebelum pertemuan, eyang menyiapkan telur asin buatannya untuk dibawa. Ternyata, ibu-ibu di komunitas ini memiliki kebiasaan membawa makanan apa saja, untuk disantap bersama ketika pertemuan. Dari sini saya belajar, bahwa perempuan memiliki naluri merawat.

Dalam pertemuan itu semua terlihat semangat dan bahagia. Yang unik, pertemuan itu diawali dengan pemeriksaan kesehatan. Lalu nembang Jawa, karena Ibu-Ibu ini dulunya hobi berkesenian, mulai dari menari, menyanyi dan bermain teater. Saya membayangkan tahun yang paling mengubah hidup mereka, tahun 1965 itu, adalah kurang lebih saat berusia seperti saya sekarang ini. Saya pun semakin bergairah untuk mencari dan menemui perempuan korban 1965 yang ada di Jawa Tengah. 

Akhirnya, saya berteman dengan perempuan korban 1965 di Jawa Tengah. Saya menemani mereka memunguti kenangan pahit. Diantara para perempuan korban 1965, ada pula yang tak bisa berkata-kata. Hingga saya harus datang bersama seorang perempuan untuk membangun ruang aman dalam interaksi kami. Lalu, ia sejenak terlihat seperti sedang mengumpulkan energi dan meyakinkan diri untuk mengutarakan sesuatu. Memang tidak mudah bagi perempuan untuk menceritakan kekerasan yang dialaminya, apalagi jika tubuh yang menjadi sasarannya. Ini menjadi bukti nyata bahwa tubuh perempuan menjadi alat untuk menakut-menakuti musuh.  

Lalu ada pula waktu dimana senyum itu begitu mekar, lengkap dengan sorot mata yang berbinar. Situasi itu biasanya saat mengenang segala aktivitas waktu muda yang penuh cita-cita untuk kemajuan bangsa Indonesia. Mereka yang aktif di GERWANI memberantas buta huruf, supaya akses pendidikan tidak hanya diperoleh laki-laki saja. Tanpa bayaran. Ya, bersama eyang-eyang putri saya merasa dekat dengan wacana kebangsaan. Tentu ini menghapus nilai yang dilekatkan pada perempuan yang dianggap hanya melakukan 3 M, yaitu masak, macak, manak (baca; memasak, berhias diri dan melahirkan anak). Perempuan memiliki pilihan membentuk jati dirinya sendiri di luar normalisasi budaya.

Jeritan pedih dan kengerian hidup para eyang, membuat saya sebagai generasi muda selalu tercenung. Bagaimana bisa ini terjadi antar warga negara di negara sendiri, dan mengapa perempuan yang mendedikasikan hidup untuk masyarakat, malah mendapatkan siksaan demikian. 

Melalui tutur cerita eyang-eyang putri, saya selalu bergairah menangkap semangat juangnya. Sampai saat ini, mereka berjuang tak henti. Entah dalam melawan trauma diri sendiri atau dalam menyebarkan cerita yang dibungkam. Saya pun merasa terpanggil melakukan sesuatu. Yaitu, membangun kolektif perempuan, yang beranggotakan perempuan muda kampus. Kami belajar tentang kepemimpinan perempuan, mencanangkan agenda feminis, membentuk ruang aman bagi perempuan, dan bersama-sama melawan penindasan yang dialami perempuan muda di kampus, sampai saat ini. Apa yang dilakukan eyang-eyang putri menginspirasi saya, bahwa politik perempuan harus kembali direbut dan diciptakan melalui ruang yang paling dekat dengan kita. 

Suatu hari, tanggal 25 Juni 2020, ketika saya berkunjung ke eyang Soemini yang dulu ketua Gerwani di kotanya, tiba-tiba eyang berkata; “Saya titip semua perempuan padamu ya Mbak!” Saya kaget setengah mati. Bahkan eyang mengatakannya saat berjalan membawa piring yang diambilnya dari dapur, saya berada di belakangnya membantu menyiapkan makan siang. Saya bergeming, menghentikan langkah sejenak. Lalu menjawabnya dengan gelagak tawa penuh tanya sampai di ruang makan. Mungkin itu sebuah tanya yang tidak butuh jawaban

Usai bertemu dengan para korban 1965, pikiran saya tidak berhenti. Sungguh, kita berhutang pada kehidupan mereka yang dirampas hak asasinya, banyak yang dibunuh, ditahan, disiksa, diperkosa hanya karena berbau revolusi, kiri, bahkan yang tidak tahu menahu pun menjadi korban asal tunjuk tanpa didahului proses peradilan. Sampai sekarang pun tak ada penyelesaian dari negara.

Sebagai generasi muda, yang memiliki akses pendidikan, bentuklah nalar kritis dalam proses berpikir. Pertanyakan, dan carilah jawabannya supaya terbentuk sensitifitas diri. Terutama tentang peristiwa yang terjadi di negara kita sendiri. Peristiwa 1965 adalah tragedi paling mengerikan di negara kita. Rebutlah pengetahuan akan hal itu, yaitu tentang narasi kebenaran korban.

Selanjutnya penuhilah panggilan jiwa, untuk melakukan sesuatu yang memunculkan keberpihakan terhadap korban 1965, dengan cara menurut versi masing-masing diri. Sebab, berpihak terhadap korban 1965 adalah berpihak terhadap kemanusiaan. Nah, bisakah melakukannya? Tentu! Ingat, kita berhutang budi pada perjuangan mereka.

Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Comments

wave
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Press ESC to close