Tahun 2020 menjadi  pengalaman unik bagi 11 perempuan muda yang kini tengah duduk di bangku kuliah. Karena keberagaman cerita perempuan, mereka memutuskan untuk menulis bersama dan mengumpulkan kisah mereka ke dalam sebuah buku yang berjudul Sehimpun Kisah Perempuan Muda Bertahan di Tengah Pandemi. Pada 26 Agustus 2020 jam 19.30 malam, Jaringan Muda bersama 11 perempuan muda meluncurkan bukunya.

Dimoderatori oleh Ika Astika, peluncuran buku yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut melalui sebuah webinar, memberikan gambaran yang menarik dari kisah-kisah perempuan di tengah pandemi. Ada tiga tema besar yang menguasai cerita-cerita dari sebelas perempuan tersebut, yaitu kesehatan mental, kekerasan seksual dan dinamika organisasi.

Kesehatan mental menjadi tema yang banyak disorot. Empat penulis perempuan melakukan refleksi atas kesehatan mentalnya. Yael Stefany Sinaga yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin umum Suara USU sebelum dibredel, mengambil waktu untuk istirahat sejenak dan merefleksi kehidupannya sebelum pandemi Covid-19. Tulisannya berjudul “(Mulai) Adil & Memanusiakan Diri Sendiri” merupakan refleksi yang berupaya untuk memanusiakan dirinya di luar kerja-kerja organisasi untuk mengambil waktu untuk istirahat. Baginya pandemi menjadi waktu untuk dirinya istirahat sejenak.

Begitu pula dengan Sherin Vermita Septiana dari Perempuan Agora, dan Alviani Sabillah dari STHI Jentera. Sherin menuliskan bagaimana kebosanan dapat mempengaruhi dirinya ketika melihat begitu banyak orang yang masih beraktifitas di luar rumah. Sedangkan Alviani yang merasa dirinya tak bisa diam, jenuh dengan kegiatan daring kuliahnya. Mereka menulis kefrustrasiannya atas kebosanan yang mereka dan orang lain alami. Namun keduanya memetik manfaat baru dari kebosanan yang ia hadapi, yaitu dengan mempererat komunikasi dengan orangtuanya.

Beda dengan Shelviana N. Fernandi yang berlaku sebagai kepala rumah tangga. Di tengah pandemi, ia harus mengalami usahanya hancur lantaran dikhianati. Belum lagi dengan keputusan ibunya untuk menjadi pekerja rumah tangga tanpa diupah sebagai ganti sewa rumah yang mereka tempati. Kejadian-kejadian tersebut membuatnya menjadi depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri, namun dukungan dari keluarga dan teman-temannya menjadi penyemangat hidupnya.

Isu kesehatan mental kini menjadi perhatian banyak perempuan. Karena peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat sudah sangat beragam sehingga membutuhkan lebih banyak ruang untuk membicarakan tentangnya.

Selain kesehatan mental, masa pandemi ini membuat kasus kekerasan seksual semakin marak. Eva Nurcahyani dari Lingkar Studi Feminis Tangerang menceritakan sulitnya korban kekerasan seksual untuk mencari ruang aman di Tangerang Selatan. Eva harus mendampingi dua korban kekerasan. Salah satunya, anak perempuan yang duduk di SMA yang diperkosa oleh ayahnya sendiri. Ia menjemput korban agar korban bisa kabur dan mengungsikan korban ke rumah aman di Jakarta.

Berbeda dengan Putri Nadya, ia harus berhadapan dengan lingkungan kerja yang tidak aman. Sebagai mahasiswi jurnalistik ia harus memiliki stok berita untuk kuliah esoknya. Di antara tugas-tugas kuliah ia harus tetap kerja menjadi jurnalis dan mewawancarai narasumber.

Pada saat peluncuran bukunya, Putri bercerita tentang ketika ia masih bekerja di press room dimana ia ditugaskan sebelum pandemi. Walaupun pengalaman ini tak dituliskan, namun Putri menceritakan bagaimana ia mendengar berbagai ucapan seksis dan misoginis terhadap pekerja seks perempuan oleh para jurnalis di press room. Sehingga ia tak tahan dan memutuskan untuk resign. Menurutnya berita-berita yang menyudutkan perempuan merupakan bentuk eksploitasi dan pelanggengan kekerasan terhadap perempuan melalui diksi-diksi yang merendahkan dan menindas.

Pelecehan seksual juga dialami oleh Erma Erfiana mahasiswi semester enam di Banjarmasin dan tergabung dalam Narasi Perempuan. Ia menuliskan sebuah cerita berjudul “Cerita Singkat untuk Hidup yang Panjang.” Saat pandemi, ia memutuskan untuk mencari teman melalui aplikasi kencan, namun sayangnya ia mendapatkan pelecehan.

Menurut Erma, bermain aplikasi kencan bukanlah persetujuan untuk mendapatkan pelecehan seksual. Belum lagi adanya upaya pembungkaman dirinya saat ia berusaha untuk speak up di media sosial mengenai kejadian tersebut. Ekspresi perempuan dibungkam melalui menyalahkan perempuan bahkan sesama perempuan juga turut ikut menjatuhkan.

Selain itu menurut Eva, pandemi ini memberi warna baru ke dalam dinamika organisasi. LSF Tangerang mendapatkan lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi tema-tema diskusi melalui webinar. Diskusi webinar juga membawa kemungkinan-kemungkinan baru yaitu terhubungnya orang-orang dari luar Tangerang dan Jakarta untuk ikut bergabung dalam diskusi. Namun, hal ini tidak selalu menguntungkan karena saat pandemi organisasi dan komunitas sering kesulitan menjalankan agendanya. Hal ini juga dialami Erma dan Yael yang juga kesulitan menjalani berbagai kegiatan organisasi.

Sebelas cerita perempuan ini kemudian di edit oleh empat editor, salah satunya Annisa Nurul dari Gerpuan UNJ. Menurutnya sejarah perempuan pantas untuk ditulis, “Karena perempuan sering hilang dari narasi sejarah. Sangat rentan dan penting untuk perempuan menghadirkan narasi tentang mereka, karena siapa lagi yang mau menuliskan tentang mereka selain mereka sendiri?” Annisa berharap perempuan sadar untuk menciptakan sejarahnya sendiri baik melalui tulisan maupun melalui karya lainnya.

Selain itu editor lainnya, Rizki Anggraini dari Narasi Perempuan mengatakan bahwa menulis adalah media menyuarakan pengalaman dan pemikirannya. “Terutama ketika selama ini perempuan yang bersuara sering kali mendapatkan stigma negatif. Saat ini, diam itu bukan lagi emas bagi perempuan karena semakin perempuan diam, dunia semakin tidak tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan perempuan, akhirnya eksistensi perempuan semakin tipis dan dianggap tidak ada.”

Cuplikan cerita beberapa perempuan di atas hanya sekelumit yang ada dari sebelas perempuan yang menuliskan kisah-kisahnya. Cerita-cerita perempuan muda di tengah pandemi ini merupakan dokumentasi kehidupan perempuan kritis yang jarang kita dengar.

Sebelas perempuan muda ini menuliskan sejarahnya dan takdirnya sendiri dengan begitu personal dan intim. Menulis adalah sebuah pengalaman personal perempuan muda bertahan, berupaya menemukan hal-hal menarik selama pandemi, dan tentu, realitas kekerasan yang tetap tidak terelakkan.

Website | + posts

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.