Pada tanggal 25 Agustus 2020 jam 16.30, Pelangi Mahardhika dan Federasi Buruh Lintas Pabrik PT Amos Indah Indonesia melakukan aksi Selasaan untuk mengecam DPR agar segera mensahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Aksi tersebut dilakukan di depan pabrik dan dihadiri oleh 30 buruh perempuan sepulang kerja. Para buruh perempuan memakai pita warna ungu sebagai simbol dukungan pada Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.

Berangkat dari keprihatin 7 orang anggota Pelangi Mahardhika yang melihat ketidakperdulian DPR untuk segera mensahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, mereka merasa perlu untuk turut menyuarakan keresahan mereka. Sebelumnya, teman-teman Pelangi Mahardhika berkoordinasi degan Perempuan Mahardhika untuk menyamakan persepsi mengenai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Dari sini, teman-teman buruh dapat memahami bahwa pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual disahkan untuk memberikan perlindungan dan pemulihan kepada korban. Walaupun mereka tahu aksi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dilakukan di hari Selasa, mereka tidak patah semangat

Bagi buruh perempuan, hari selasa adalah hari kerja (kecuali tanggal merah). Oleh karena itu untuk mengikuti aksi ke DPR harus menggunakan surat dispensasi. Kesulitan untuk mendapatkan izin dari pabrik dirasakan agak berat oleh buruh perempuan, sehingga buruh perempuan berinisiatif untuk melakukan aksi Selasaan di depan pabrik. Hal ini juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran rekan-rekan buruh dan masyarakat sekitar tentang pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Oleh karena itu buruh perempuan memberanikan diri untuk berbicara dengan pengurus FBLP dan PT Amos untuk mengadakan aksi dan meminta dukungan serikat.

Linda salah satu anggota Pelangi Mahardhika dan pengurus FBLP PT. Amos Indah Indonesia, melihat bahwa pelecehan seksual adalah isu yang sangat dekat dengan kehidupan buruh. Kerja target, status kerja kontrak membuat buruh perempuan dan juga buruh dengan keragaman ekspresi gender menjadi rentan mengalami pelecehan seksual.

Untuk mengorganisir aksi Selasaan, terdapat beberapa proses yang harus dilalui oleh buruh perempuan. Ada beberapa hal yang harus disiapkan seperti sosialisasi kepada buruh perempuan pentingnya mendukung RUU PKS melalui whatsapp dan juga melalui pertemuan langsung, membeli pita, menyiapkan bendera, dan yang lumayan berat adalah mengumpulkan teman-teman buruh perempuan.

Tantangan untuk mengorganisir buruh tidak berhenti disitu saja. Seringkali buruh perempuan mengalami kesulitan untuk dapat mengorganisir antar temannya sendiri. Hal ini dikarenakan waktu pulang kerja mereka yang tidak bersamaan. Terkadang masih ada teman-teman buruh perempuan yang lembur hingga jam enam malam.

Untuk dapat mengajak buruh perempuan untuk meluangkan waktunya 45 menit saja memerlukan kerja keras untuk meyakinkan mereka untuk ikut terlibat. Oleh karena itu sesama buruh perempuan harus bisa saling memerhatikan kondisi tubuhnya mereka saat aksi. Walaupun lelah dari bekerja seharian, buruh perempuan tetap semangat menjalankan aksi.

Tantangan lainnya untuk mengorganisir juga beragam. Beberapa perempuan yang belum terpapar mengenai isu kekerasan seksual masih menyalahkan korban dan menganggap kekerasan seksual adalah aib keluarga. Informasi mengenai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual memang belum cukup tersebar luas oleh karena itu perlu untuk dilakukan sosialisasi secara terus menerus.

Pelangi Mahardhika berharap kedepannya tidak hanya buruh-buruh pabrik di PT Amos Indah Indonesia saja, namun di pabrik-pabrik lain juga ikut bergerak untuk menyuarakan keresahannya dan kepentingannya melalui aksi-aksi sederhana seperti aksi Selasaan.

Dalam orasinya yang disampaikan melalui aksi Selasaan di pabrik, teman-teman buruh perempuan menyuarakan mengenai pentingnya korban kekerasan seksual mendapatkan perlindungan dan mendapatkan haknya. Inilah yang membuat buruh perempuan bersedia meluangkan waktunya 45 menit setelah pulang kerja untuk terlibat aksi.

Untuk teman-teman buruh yang ingin ikut aksi namun kesulitan untuk mengorganisirnya, teman-teman buruh bisa memilih memakai pita warna ungu sebagai bentuk dukungan terhadap teman-teman yang sedang berjuang untuk pengesahan RUU PKS, sekaligus bentuk kepedulian terhadap korban–korban kekerasan seksual dan juga kepada teman – teman buruh perempuan yang mengalami Kekerasan dalam rumah tangga.

Website | + posts

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.