Hati Gunarti teriris ketika menyaksikan Gua Lawa diobrak-abrik untuk dieksploitasi fosfatnya. Sejak saat itu, Gunarti bersumpah untuk menyelamatkan tempatnya melangsungkan kehidupan. Ia sadar, papan panggonan-nya telah dirusak oleh orang!

Pegunungan Kendeng yang merupakan wilayah karst yang asri sekarang masih terancam oleh pendirian pabrik semen. Perjuangan tidak pernah berjalan dengan mulus, pertemuan dan diskusi yang diadakan oleh para pejuang lingkungan seperti Gunarti dan Mbok Giyem kerap dibubarkan oleh preman. Mereka yakin, berbagai agama dan kepercayaan mesti bersatu untuk mempertahankan kelestarian Pegunungan Kendeng  yang merupakan sumber kehidupan.

Sehari-hari, masyarakat Sukolilo dan Sedulur Sikep melakukan musyawarah, nguri-uri budaya, dan belajar berbagai hal: mulai dari membaca, menulis, berhitung, nembang Jawa, maupun menabuh gamelan di Omah Kendeng. Sedulur Sikep merupakan sebutan bagi komunitas penghayat kepercayaan Samin Surosentiko yang menyebar di Pati, Rembang, Grobogan, Blora, dan sekitarnya.

Zaman dahulu, Sedulur Sikep melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dengan menolak membayar pajak. Mereka percaya bahwa bumi, tempat yang dipijak dan dimanfaatkan adalah milik Yang Mahakuasa dan nenek moyang. Walau jumlah mereka sedikit, tetapi Sedulur Sikep sangat berpengaruh terhadap perjuangan menolak pendirian pabrik semen yang terjadi hingga saat ini. Perlawanan yang dilakukan oleh Sedulur Sikep berpedoman kepada ajaran tanpa kekerasan. Sejak kecil anak-anak juga diajari untuk memperbaiki perilaku dan senatiasa berkata jujur.

Dalam hal mendidik anak, mereka memiliki cara sendiri yaitu dengan tidak menyekolahkan mereka di sekolah formal. Anak-anak laki-laki dan perempuan belajar membaca, menulis, dan berhitung dibimbing oleh Gunarti (perempuan yang berada di garis depan perjuangan masyarakat lereng Kendeng menolak pendirian pabrik semen). Gunarti percaya bahwa perjuangan menolak pabrik semen bukan hanya milik laki-laki, perempuan pun harus mampu bertindak. “Perempuan harus dipahamkan. Mereka berani karena mengerti,” tegas perempuan 47 tahun itu.

Banyak orang mengira bahwa Pegunungan karst Kendeng itu gersang dan tandus. Namun, asumsi itu terpatahkan setelah menyapa langsung angin yang berhembus di tebing-tebing dan pepohonan asri yang tumbuh di sana. Kata Gunarti, masyarakat lereng Kendeng menemukan sekitar 49 mata air yang berasal dari Pegunungan Kendeng. Mata air tersebut mengalir melalui gua dan sungai bawah tanah.

Kita harus merasakan segarnya udara dan melihat langsung hijaunya Pegunungan Kendeng yang terus dirawat oleh masyarakat sekitar, supaya mampu mempertahakankan kelestarian dan mendapatkan alasan mengapa harus memperjuangkan perlawanan tolak pabrik semen. Kegiatan spiritual Sedulur Sikep dan masyarakat lereng Pegunungan Kendeng yaitu nandur (menanam). Mereka senantiasa hidup sederhana dengan bertani. Jika pabrik semen didirikan di sini, kesejukan, sumber penghidupan, flora, dan fauna akan berangsur-angsur menghilang.

Perempuan dan laki-laki lereng Kendeng berbagi peran untuk berkumpul serta mencari nafkah. Gunarti bercerita bahwa ia awalnya mengajak para perempuan berjuang dengan  berkunjung ke desa satu, dan berpindah ke desa lain menaiki sepeda onthel, kadang juga mengendarai sepeda motor ketika lokasi desa berada di atas.bukit. Gunarti bahkan menghadiri acara ibu-ibu Tahlilan dan Yasinan walau ia penganut ajaran Samin Surosentiko. Perjuangan menjaga kelestarian Pegunungan Kendeng adalah milik semua agama dan kepercayaan di sana.

                  Foto: Dok. Lena Sutanti

Gunarti dan perempuan lereng Kendeng membentuk Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Simbar Wareh. Simbar bermakna dua sumber mata air, Simbar Joyo dan Gua Wareh, yang akan terancam apabila pabrik semen didirikan. Mereka juga memproduksi jamu-jamu untuk kesehatan, seperti kunyit asem, kunyit putih, beras kencur, dan temulawak hasil Pegunungan Kendeng.

Hebatnya, masyarakat lereng Kendeng yang memiliki perbedaan latar belakang kepercayaan dan budaya bersatu untuk berjuang melawan orang-orang yang ingin merusak sumber kehidupan mereka. Tokoh agama di sana berceramah dengan topik kelestarian lingkungan. Ceramah dengan topik mengenai kehidupan sehari-hari seharusnya bisa menjadi teladan bagi orang lain di luar Pegunungan Kendeng. Bukan ceramah yang menggiring pada kebencian dan mengajarkan perilaku ekslusif.

“Seberapa penting lemah (tanah), banyu (air), dan semen?” tutur Gunarti yang membuat kita kembali berpikir bahwa keegoisan manusia lah yang telah menuntun mereka melakukan hal yang merugikan orang lain demi sebuah kepentingan. Tentu saja masyarakat sekitar akan mendapatkan begitu banyak dampak buruk daripada dampak baik yang fana jika pabrik semen tetap didirikan di lingkungannya.

Perlawanan Sedulur Sikep dan masyarakat lereng Kendeng mampu memukul mundur pendirian pabrik semen di Sukolilo, Pati. Namun, hingga sekarang, perlawanan belum usai mengingat pendirian pabrik semen masih ada di daerah lain di Pegunungan Kendeng, seperti di Blora, Rembang, dan Grobogan. Perlawanan terhadap pabrik semen tak mudah; Mbok Giyem, salah satu pejuang lingkungan mengatakan bahwa masyarakat lereng Kendeng di Tambakromo, Pati pernah diancam preman dan pertemuannya dibubarkan. Namun, mereka tak menyerah begitu saja, semua dilakukan demi ibu bumi dan anak cucu! Njagong (duduk, diskusi), nembang, berdoa, dan melakukan aksi semen kaki sebagai cara melakukan perjuangan. Mereka tetap berjuang di tengah dilema bahwa siapa yang menolak pendirian pabrik semen dianggap melawan negara.

Menurut Gunarti, masyarakat lereng Kendeng mengamini bahwa ibu bumi seharusnya tidak dianggap sebagai benda mati. Namun ia perlu ditanami, dirawat dengan telaten, dihormati, digunakan secukupnya dan diwariskan. Bertoleransi tidak seharusnya dilakukan hanya terhadap sesame manusia tapi juga terhadap lingkungan.

Tresnanana ibu bumi kaya nresnani awakmu dhewe! Cintai ibu bumi seperti kita mencintai diri sendiri,” tutupnya.

***

Catatan:

Tulisan ini bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sebelumnya, pernah dimuat di https://elsaonline.com/mengapa-sedulur-sikep-dan-masyarakat-kendeng-susah-susah-melestarikan-lingkungan/

Lena Sutanti