Sabtu, 3 April 2021, The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) menyelenggarakan aksi solidaritas untuk merespon aksi-aksi terorisme yang terjadi beruntun dalam minggu terakhir bulan Maret. Pertama, aksi bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral, Makassar (28/3). Yang kedua adalah aksi penembakan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) (31/3).

Dalam aksi bertajuk Solidaritas Makassar yang diselenggarakan melalui platform pertemuan daring itu,  sejumlah tokoh hadir menitipkan harapan bahwa aksi ini dapat menjadi penguat asa bagi masyarakat yang ada di Makassar. Aksi ini juga dapat menjadi bukti bahwa gerakan perempuan bersolidaritas untuk korban dan penyintas peristiwa terorisme.  Nampak hadir di antara peserta, sejumlah tokoh gerakan perempuan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPPA), Bupati Banyuwangi, dan berbagai jaringan muslim di Indonesia. Tak lupa juga, penyintas peristiwa bom Kedutaan Australia dan bom Thamrin pun hadir dan memberikan pernyataannya.

Hal yang disoroti dalam aksi Solidaritas Makassar antara lain perspektif feminisme terkait perempuan sebagai eksekutor pada aksi-aksi terorisme. Ruby Kholifah, Direktur AMAN Indonesia, menyatakan bahwa aksi teror di Makassar dan Mabes Polri itu bukan pertama kalinya melibatkan perempuan sebagai eksekutor. Ia menyatakan bahwa keterlibatan perempuan dan anak dalam konteks terorisme berbeda dengan feminisme dan nilai-nilai kesetaraan gender.

“Ini bukan ekspresi feminisme dan gerakan perempuan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pergeseran makna terorisme itu mesti dilihat; yang tadinya tersembunyi dan banyak dilakukan laki-laki, sekarang sebaliknya yaitu dilakukan secara terang-terangan dan oleh perempuan. Kehadiran media sosial, menurut Ruby, menjadi salah satu faktor yang mengubah bentuk, metode, aktor, dan strategi dalam terorisme sehingga bertransformasi seperti sekarang.

Sejalan dengan Ruby, Aisyah Kara, Guru Besar UIN Alauddin Makassar pun menegaskan bahwa aksi teror yang terjadi belakangan ini bukanlah merujuk pada keadilan gender. “Justru ini adalah bagian dari strategi-strategi patriarki,” ujarnya. “Itu adalah warning untuk kita,” tambahnya. Ia juga bercerita bahwa gereja Katedral Makassar sempat dijadikan tempat untuk solidaritas lintas agama di Makassar, sehingga sangat mengejutkan ketika terjadi aksi terror di sana.

I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Menteri PPPPA menyatakan bahwa terorisme terjadi karena sistem patriarki yang mengakar kuat dalam kultur masyarakat, sehingga menempatkan perempuan dalam posisi rentan dalam sektor sosial, ekonomi, dan budaya. Ia juga menjelaskan bagaimana kaitan antara domestifikasi perempuan dengan aksi-aksi terorisme.

Doktrin agama dengan perspektif patriarki menempatkan perempuan untuk tunduk dan patuh pada segala keputusan suami, termasuk tentang larangan bekerja dan sebatas menjadi ibu di rumah. Peran posisi perempuan sebagai ibu rumah tangga ini sangat strategis untuk meradikalisasi keluarga, termasuk mempersiapkan anak-anak menjadi martir. Dalam aksi terorisme, perempuan kerap dijadikan sebagai pembuka jalan, sebagai pengecoh aparat, juga sebagai eksekutor.

Oleh karena itu, menurut Sylvana Maria Apituley, dari Kantor Staf  Presiden (KSP), “Kita harus mengakui apa yang terjadi.” Sylvana menegaskan, peristiwa ini bukanlah tanda menguatnya feminisme. Justru ini merupakan kekalahan cara berpikir orang-orang yang memposisikan perempuan harus memakai kekerasan.

Sylvana kemudian mengajak peserta aksi untuk memperkuat dan memperbanyak kerja-kerja penyadaran. “(melalui) pendidikan kritis, kritik ideologi patriarki, dan kapitalisme,” tuturnya, “supaya kita bisa memutus hegemoni patriarki yang membelenggu perempuan dan menyebabkan berbagai ketimpangan ini.”

Terorisme dan Agama

Musdah Mulia, penulis buku Muslimah Reformis, menyatakan ketidaksepakatannya apabila aksi terorisme yang terjadi tidak dikaitkan dengan agama. Ia mengulang pernyataan ini sebanyak dua kali dalam pesan solidaritasnya. “Karena itu sangat jelas! Kita harus rendah hati dan mengakui bahwa ada yang salah dengan keber-agama-an kita. Tidak hanya Islam, melainkan di ajaran agama lain pun terdapat potensi keliru dalam praktiknya,” tegasnya.

Musdah menyatakan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan untuk menciptakan keadilan adalah mencontohkan dan mengedepankan kasih sayang, bukan lewat praktik-praktik teror dan kekerasan. Menurutnya, semua bentuk terorisme dan ekstrimisme itu bertentangan dengan hati manusia, agama, dan nilai-nilai luhur Pancasila.

Musdah menyatakan, seorang muslim pasti mengedepankan sifat-sifat maslahat, ramah, dan berorientasi untuk kemaslahatan bersama, tanpa terkecuali. Bukan malah melakukan tindak kekerasan dan kebiadaban yang sifatnya merusak. Ia mengajak peserta aksi untuk menjadikan agama sebagai alat untuk menjadikan manusia menjadi manusiawi, dan untuk membangun masyarakat lebih damai, harmoni, dan sejahtera.

Terkait tindakan yang bisa dilakukan bersama ke depan,  Maria Ulfa Sugara dari Indonesian Muslim Crisis Center menyatakan bahwa edukasi perempuan akar rumput tentang toleransi antarumat beragama dan budaya penting dilakukan. Ia menegaskan bahwa itu adalah pekerjaan rumah (PR) bersama. Tak lupa juga, edukasi kepada anak-anak tentang nilai-nilai keberagaman, anti terorisme dan anti radikalisme, nilai-nilai kedamaian, dan persatuan, haruslah digemakan lebih luas.

**Tulisan ini pernah terbit di Jalastoria.com pada 5 April 2021

 

 

 

Annisa Nurul Hidayah Surya