Program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (Maba) atau yang biasa disebut dengan OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) pada masa pandemi ini sangat berbeda. Ospek yang biasanya dilakukan di gedung kampus dan dapat bertatap muka secara langsung, kini hanya bisa dilaksanakan melalui video daring.

Ospek daring juga dilaksanakan oleh pengurus BEM FH Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atau disingkat Untirta, namun yang menarik dari pelaksanaan Ospek daring yang diadakan oleh pengurus BEM FH Untirta ini adalah adanya pendidikan Kesetaraan Gender di dalam rangkaian agenda tersebut. Ini merupakan capaian yang sangat luar biasa mengingat masih kurangnya kesadaran mahasiswa atau pengurus internal kampus akan isu kesetaraan gender atau isu perempuan.

BEM FH Untirta mengajak Eva Nurcahyani dari Jaringan Muda Setara dan Lingkar Studi Feminis untuk mengisi pendidikan kesetaraan gender di ospek daringnya tersebut. “Kami menganggap pentingnya pendidikan kesetaraan gender di perkenalkan kepada mahasiswa baru, agar mahasiswa baru bisa tahu dan aware (sadar) tentang isu perempuan. Selain itu, ini juga menjadi bagian dari program BEM FH Untirta, yang ingin menciptakan kampus ramah gender dan bebas dari kekerasan seksual” Ucap Suci selaku Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan BEM FH Untirta.

Kampus yang seharusnya merupakan ruang berekspresi, ruang berkarya bagi siapa saja, baik lelaki maupun perempuan justru membungkam nilai-nilai, eksistensi, dan identitas perempuan. Kampus juga kerap membuat perempuan merasa tidak aman. Hingga hari ini, perempuan masih mendapatkan berbagai serangan di ranah kampus. Masih banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah kampus baik yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen. Petinggi kampus bahkan seolah menutup mata dan tak berpihak kepada korban. Adanya peraturan yang mengatur jam malam, hingga cara berpakaian perempuan merupakan salah satu contoh dari sekian banyak ancaman terhadap independensi perempuan.

Selain itu, masih adanya krisis kepercayaan kepada kepemimpinan perempuan. Perempuan dihilangkannya eksistensinya. pembluran wajah yang merupakan kekerasan simbolik terhadap perempuan. Hal ini juga merupakan bentuk penghilangan peran dan eksistensi perempuan dalam teks organisasi.

Dengan adanya pengenalan pendidikan kesetaraan gender, diharapkan dapat meningkatkan daya nalar kritis mahasiswa baru agar bisa mengawal isu perempuan di kampus. Salah satunya melawan bentuk-bentuk penyerangan independensi perempuan serta intoleransi-intoleransi di ranah kampus.

“BEM FH Untirta memang sudah sejak lama selalu mengangkat isu-isu perempuan dalam diskusi kami, karena kami menganggap bahwa isu perempuan mencangkup semua isu, baik isu politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Dalam rangkaian Ospek Online kami, bukan hanya pendidikan kesetaraan gender yang kami angkat, melainkan juga pengenalan mengenai isu Hak Asasi Manusia. Selain itu kami juga sedang mengawal agar adanya SOP (standar operasional prosedur) yang menangani kasus Kekerasan Seksual di Kampus” Tambah Atta selaku Wakil Presiden BEM FH untirta.

Pendidikan Kesetaraan Gender dalam ospek daring ini dilaksanakan pada tanggal 18 September 2020 pukul 15.00-17.30 WIB, dengan jumlah peserta 197 Peserta Mahasiswa Baru Fakultas Hukum Untirta. Para peserta sangat antusias dan interaktif dalam mengikuti pendidikan. Mereka tak ada hentinya bertanya mengenai bagaimana cara membangun gerakan di dalam lingkungan kampus. Tak disangka banyak peserta yang sudah cukup mengikuti tentang gerakan perempuan dan isu kesetaraan gender.

Salah satu peserta Ospek daring bernama Zahra menyatakan, “Saya kira ospek hanya sebatas pengenalan kampus, organisasi kampus seperti ospek-ospek pada umumnya, namun dengan adanya pendidikan gender ini membuat saya lebih update dan teredukasi mengenai keadaan atau isu perempuan diluar sana.” Zahra memang peserta yang cukup aktif dan semangat dalam mengikuti pendidikan kesetaraan gender ini.

Begitu pula dengan Eva selaku pembicara dari ospek daring. Ia sangat mengapresiasi apa yang dilakukan BEM FH Untirta. “Pendidikan gender di kalangan maba ini sangat penting sebagai bahan edukasi. Agendanya sangat bermanfaat untuk menciptakan lingkungan kampus yang ramah gender, sehingga ramah gender bukan hanya slogan biasa yang biasanya dipakai oleh pengurus internal bem.”

Harapan kedepannya kawan-kawan BEM FH Untirta dapat menularkan kepada kawan-kawan pengurus internal kampus untuk bisa mengadakan diskusi-diskusi mengenai isu perempuan lebih banyak lagi dan melibatkan berbagai sektor.

 

+ posts

Eva adalah seorang Bidan yang aktif di isu perempuan karena merasa resah dengan apa yang dialami oleh perempuan, terutama akibat dari regulasi-regulasi/kebijakan yang timpang. Dia juga aktif sebagai mahasiswa hukum dan turut membangun kolektif-kolektif perempuan muda kampus.