Dilahirkan sebagai seorang laki-laki menjadikan kehidupan seseorang dipenuhi dengan kemudahan dibandingkan temannya yang lahir dalam tubuh seorang perempuan. Kelahiran ini murni tanpa ada sedikitpun intervensi dari kita, tak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menentukan dia lahir dengan jenis kelamin apa.

Dengan menyandang status sebagai laki-laki, secara langsung seseorang juga mendapatkan privilege yang melekat pada dirinya. Kelahirannya dinanti, bahkan sebagian orang ada yang rela kawin berkali-kali demi mendapatkan anak laki-laki yang dianggap dapat mewarisi nama keluarga, pendidikannya diutamakan karena kelak diproyeksikan sebagai tulang punggung keluarga, kebebasan berekspresi menjadi penanda akan eksistensinya, dan banyak hak istimewa lainnya yang ia dapatkan.

Persoalan muncul ketika kita membedah maskulinitas bahwa ternyata ia hadir tidak hanya membawa privilege bagi laki-laki, namun ia juga hadir dengan membawa setumpuk ambisi dan ekspektasi yang sering kali jauh dari kemampuan laki-laki itu sendiri yang memiliki kemampuan fisik dan rohani yang terbatas untuk memenuhinya.

Hal ini menjadi satu dari sekian alasan saya dan banyak laki-laki lainnya di luar sana untuk ikut memperjuangkan kesetaraan gender yang disuarakan oleh feminisme demi membongkar struktur masyarakat patriarki yang telah menancapkan akarnya sedemikian dalam pada masyarakat kita dan membuat kerugian untuk semua orang tanpa melihat  jenis kelaminnya.

Bagi sebagian orang, mungkin terdengar aneh ketika mendengar laki-laki, khususnya yang berpenampilan ‘sangat maskulin’ untuk turut menyuarakan tuntutan kesetaraan gender yang disuarakan oleh kelompok feminis. Bagaimana ceritanya ada seseorang yang ingin melepaskan seluruh hak istimewa yang dimilikinya sebagai laki-laki dan membantu gerakan perempuan? Bukankah posisinya sebagi laki-laki hingga saat ini masih diposisikan sebagai kelas superior dalam susunan hierarkis masyarakat kita? Tidakah justru ini adalah keuntungan baginya?

Pertanyaan di atas tidak hanya muncul dalam benak setiap orang yang belum tersentuh pengetahuan tentang gender, bahkan sebagian kawan yang juga aktif dalam gerakan perempuan terkadang juga bertanya dengan kehadiran kami, laki-laki, yang sebenarnya juga ingin terlibat dalam gerakan kesetaraan gender ini. Dalam kondisi seperti ini, pada titik tertentu, saya pernah berpikir, “apakah merupakan sebuah kesalahan bagi saya sebagai seorang laki-laki untuk turut terlibat dalam upaya kolektif yang menentang budaya patriarki dan penindasan terhadap perempuan?”

Ada sebuah fakta yang harus diakui kebenarannya bahwa laki-laki dan perempuan, keduanya memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Sampai kapan pun pengalaman ini telah menjadi sesuatu yang utuh dan tidak bisa dibagi kepada orang lain, kecuali dengan menjalani sendiri pengalaman tersebut agar ia dapat mengerti apa yang dirasakan dan dialami dalam suatu peristiwa tertentu. Dalam konteks ini, pengalaman biologis antara laki-laki dan perempuan lah yang keduanya memiliki banyak perbedaan dan tidak bisa dibagi.

Akan tetapi dalam ranah sosial kemasyarakatan, menurut saya laki-laki juga sedikit banyaknya dapat merasakan bentuk penindasan yang dialami oleh perempuan. Contoh kecilnya dapat kita lihat dari berbagai cerita teman laki-laki saya di luar sana yang ibu nya menjadi korban dari KDRT dan poligami. Dalam hal ini, anak laki-laki juga dapat menjadi korban dari arogansi patriarki dengan menahan lelahnya fisik dan pedihnya hati ketika melihat sosok ibu, yang telah mengandung dan membesarkannya, menjadi korban dari KDRT dan kebengisan nafsu birahi seorang laki-laki.

Diskusi bersama Mas Eko Bambang Subiantoro, Koordinator Nasional Aliansi Laki-Laki Baru yang diadakan secara terbatas beberapa waktu lalu mencerahkan saya tentang pentingnya laki-laki untuk turut mengisi ruang dalam gerakan feminis, khususnya dalam rangka menghapuskan penindasan terhadap perempuan. Saya pun banyak setuju dengan beliau, bahwa kini laki-laki harus turut berpartisipasi dan mengambil peranan dalam perjuangan ini.

Peran laki-laki menjadi penting karena selama ini laki-laki kerap diidentikan sebagai aktor utama yang melanggengkan dominasi atas perempuan dalam susunan masyarakat patriarki. Oleh karena itu, dengan hadirnya laki-laki yang tentu sudah memiliki semangat dan pemahaman gender yang baik dalam barisan gerakan feminisme, jika dimaksimalkan dengan baik akan dapat secara signifikan memberi kontribusi dalam upaya merobohkan tembok besar bernama patrirki yang selama ribuan tahun telah mengkungkung perempuan dari segala kebebasan berekspresi dan terjaminnya hak yang seharusnya ia dapatkan.

Oleh karena itu, melalui tulisan singkat dan sederhana ini teriring pesan dari saya pribadi, sebagai seorang laki-laki yang mendambakan kesetaraan bagi semua, agar baik laki-laki dan perempuan saling bergandengan tangan berjuang bersama untuk meruntuhkan tembok patriarki itu hingga ke akar-akarnya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing individu.

Billy

R. Ahmad Rosyiddin Brillyanto akrab dipanggil Billy, adalah seorang mahasiswa Sosiologi di UIN Syarif Hidyatullah Jakarta yang aktif dalam menyuarakan isu perempuan dan hak asasi manusia. Saat ini Billy juga berperan sebagai pengurus di Lingkar Studi Feminis Tangerang dan Amnesty International Indonesia chapter UIN Jakarta.