“Begitu tuh kalo jadi feminis, pemikirannya jadi liberal.” “Dasar antek-antek barat” Beberapa perkataan yang pernah diucapkan orang lain kepada saya secara terang-terangan, ketika saya mulai belajar kesetaraan dan mulai mendalami feminis, padahal menurut saya apa yang diperjuangkan Islam dan Feminisme adalah hal yang sangat berdekatan; menyetarakan manusia, menghargai perbedaan, melawan penindasan, dan hal-hal baik lainnya.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti lokakarya yang diadakan oleh Perempuan Mahardhika bersama kawan-kawan kolektif muda dari wilayah kampus UIN Jakarta yaitu Lingkar Studi Feminis (LSF) – Tangerang, Kolektif Rosa dan Gender Talk. Workshop ini diselenggarakan pada Jumat, 25 September 2020 dengan mengambil tema “Feminisme dalam Kacamata Muslimah”. Workshop yang menghadirkan Ibu Musdah Mulia, seorang aktivis feminis muslim ini, seakan membuat saya semakin mengamini bahwa benar apa yang diperjuangkan dalam Islam dan Feminisme adalah hal yang berdekatan.

Lemahnya pembacaan dan penceritaan ulang sejarah pada tokoh-tokoh Perempuan-terutama Perempuan Islam, seakan membuat intrepretasi perjuangan perempuan seakan abu-abu. Padahal jika kita lihat, banyak sekali Tokoh Perempuan seperti Sayyidah Fatimah, Sayyidah Maryam, Sayyidah Khadijah, sampai Sayyidah Zainab-yang menemani saudaranya Sayyidina Hussein ketika dibantai di Perang Karbala, beliau memberikan propaganda untuk terus menyuarakan suara kebenaran islam pada saat itu. Bukankah ini juga termasuk dalam esensi nilai-nilai yang diperjuangkan feminisme?

Selain adanya penafsiran yang merugikan perempuan akibat pengaruh budaya patriarki dan adat tradisi yang tidak ramah gender, kepemimpinan perempuan, kejatuhan Adam dan Hawa menimbulkan stigma bahwa perempuan itu penggoda, penciptaan Perempuan Berasal dari Tulang Rusuk Laki-laki, beberapa hal tersebut membuat perempuan menjadi terpinggirkan dan menjadi subordinat pada berbagai aspek kehidupan. Padahal banyak hal-hal lain yang justru diajarkan dalam Islam untuk menghilangkan penindasan terhadap perempuan, seperti isu pernikahan. Dahulu perempuan dipaksa untuk menikah, oleh Islam harus dengan seizin dan persetujuan oleh wali dan saksi 2 orang. 

“Rasulullah adalah Feminis Muslim Pertama, Beliau membawa nilai-nilai kesetaraan kala itu….” Kurang lebih itu yang diucapkan Musdah Mulia yang selalu terngiang-ngiang dipikiran saya, esensi risalah Islam, dengan perjuangan memanusiakan manusia agar terwujud insan-insan bermoral dengan penegakan salah satunya adalah aspek kesetaraan. Rasulullah juga sangat menghormati Perempuan, memberikan hak-hak demokratis terhadap perempuan, serta memperjuangkan penghapusan penindasan perempuan, bahwa kita semua tau kala itu perempuan hanya dipandang sebagai objek-bukan sebagai manusia yang seutuhnya.

Stigma yang terlekat pada orang-orang yang mengamini feminisme sebagai nilai-nilai dalam berkehidupannya sering sekali didiskreditkan sangat gencar dan massif sehingga terkadang substansi dari feminisme itu menjadi kabur, terplintir, yang membuat adanya penolakan secara cuma-cuma tanpa terbangunnya ruang diskusi. Saya tidak memaksa orang lain harus setuju dengan apa yang saya katakan, tapi bukankah kita tidak bisa langsung memberikan kesimpulan terhadap sesuatu yang bahkan kita sendiri pun hanya “paham” dari “kabar burung” yang beredar?

Kesadaran feminisme pada abad 20 pun mulai gencar digaungkan, hal ini karena karena pentingnya nilai-nilai kesetaran terhadap manusia, tanpa melihat apapun yang terlekat pada dirinya, termasuk gender. Beberapa Tokoh Islam yang dijelaskan oleh Bunda Musdah salah satunya adalah “Tahir Al-Haddad”, ia mengaungkan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan, penentangan pada poligami, serta pendorongan pada perempuan untuk berkerja dan menuntut ilmu di sekolah. 

Menurut saya saat ini, sangat tidak diperlukan untuk memperdebatkan kata “feminisme” yang “katanya ajaran dari barat”. Bila ditelaah lagi, bukankah semangat progresif penggaungan kesetaraan sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW sejak jaman dahulu? Entah apapun namanya, saya yakin bahwa Islam Memanusiakan Manusia, begitu juga Feminisme.

Seorang mahasiswa Pertanian yang sedang fokus belajar serta mengawal isu kesetaraan gender.