Bagi perempuan Papua, merawat benih bagian dari jalan panjang penyembuhan luka. Ini di alami oleh Mama Awin Keti. Ia adalah Penyintas Biak Berdarah. Pengalaman menyakitkan yang di alami olehnya, dituangkan dalam sebuah praktik menanam bahan pangan, seperti benih padi ladang, juga jewawut.Bagi Mama Awin, menanam adalah cara memulihkan diri, di tengah negara yang tak pernah menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama terhadap perempuan dan anak-anak.
Jalan yang sama juga ditempuh oleh Margaretha Segeteles (almarhumah), perempuan asal Teminabuan. Setelah mengajar di PAUD dampingan kami, Margaretha selalu pulang ke kebun, menanam, menyemai benih, dan merawat tanah. Ia percaya bahwa setiap benih yang tumbuh adalah doa bagi kehidupan dan penyembuhan bagi luka-luka perempuan Papua. Bagi Margaretha, seperti halnya bagi Mama Awin, selain ruang produksi pangan, kebun adalah ruang merawat harapan dan keberlanjutan hidup.
“Perempuan Papua punya tanggungjawab untuk kehidupan, baik untuk anak-anaknya atau keluarga, juga tanah ini. suatu saat kemerdekaan bagi tanah ini akan datang, sudah banyak luka yang kami dapatkan, maka kemerdekaan itu harus ada dan kami akan menikmati itu sampai generasi yang akan datang” pernyataan mama Awin saat kegiatan doa bersama Biak Berdarah 7 Juli 2025 di Manokwari.
Garis Terdepan Penjaga Alam
Relasi yang cukup kuat itu, secara tidak sadar menempatkan Perempuan Papua sebagai kelompok terdepan dalam menjaga alam, juga sebagai penggerak kehidupan. Perempuan sebagai penghasil pangan utama keluarga memahami dengan baik kondisi alam dan perubahan alam dari waktu ke waktu, karena perubahan alam berpengaruh besar pada pemenuhan pangan keluarga, juga dalam memanfaatkan tumbuhan liar sebagai bahan obat-obatan. Sebagai contoh, Mama-mama di Pegunungan Arfak, menghabiskan 7 hingga 8 jam setiap hari untuk berkebun. Lokasi kebun berpindah, dengan prinsip igya ser hanjop (berdiri untuk menjaga batas/ menghormati batas milik marga sendiri dan orang lain), dilakukan dengan konsep-konsep menjaga alam. Kebun berpindah untuk menjaga kesuburan tanah (membiarkan 1 hingga 2 tahun) serta berkebun tanpa pupuk kimia, merupakan praktik yang biasa dilakukan oleh mama-mama untuk menjaga alam. Praktik pengelolaan dan budi daya yang dilakukan perempuan adat wilayah Pegunungan Arfak merupakan salah satu cara mereka untuk melindungi wilayah adat agar komunitas suku memahami pentingnya wilayah tersebut.
Dua perempuan ini memulai dengan berkebun, mentrasfer ilmu pengetahuan dengan bercerita kepada anak – anak, serta dalam kegiatan mengadvokasi kelompok masyarakatnya sebagai bentuk dukungan bagi perempuan Papua lainnya. Mama-mama mewariskan pengetahuan dan sejarah dari generasi ke generasi, terkait dengan bahasa, mitos, cara berladang, riwayat waris, ramuan obat herbal, ramuan racun untuk berperang, dan sistem pengerahan logistik upacara adat. Pengetahuan tradisional ini menjadi kunci keberlanjutan suku dan sumber daya alam. Kesempatan ini dilakukan atas dasar pengetahuan tradisional mereka bagaimanan Perempuan papua dalam memahami alam itu sendiri.
Suara Perempuan Papua
Luka panjang orang Papua, terekam kuat dalam memori pasionis mereka. Itu mereka tuangkan dalam proses advokasi dan penolakan-penolakan yang dilakukan oleh masyrakat Papua. Dalam penolakan Program Strategis Nasional, Makan Bergizi Gratis dan Food Estate di Papua, Mama Awin Keti berteriak dengan lantang “kami orang papua tidak miskin, lumbung pangan kami sangat banyak, sumber pangan kami ada dihutan, dan makanan kami juga sangat bergizi. Program makanan bergizi gratis adalah bentuk penghinaan bagi kami perempuan Papua, kalian menghina eksistensi perempuan adat papua dalam meberikan makan anak-anaknya.”
Papua memiliki akar budaya yang berpusat pada perempuan. Pergeseran zaman membuat posisi perempuan terpinggirkan dan terlupakan dari keputusan strategis. Mengelola dan menjaga sumber daya alam untuk hidup keluarga adalah pekerjaan ekstra keras. Kekayaan pengetahuan perempuan perlu didengarkan secara layak dibarengi dengan peningkatan pemberdayaan dan kapasitas kepemimpinan perempuan untuk bersuara di ruang-ruang publik.
Akses keadilan yang sangat sulit bagi perempuan Papua yang mengalami kekerasan, adalah bentuk dari tidak adanya pelibatan perempuan Papua, serta masyarakat adat di ruang publik. Perempuan kerap dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, bukan oleh orang lain, melainkan oleh masyarakat setempat. Budaya patriarki yang sangat kuat mengharuskan Perempuan papua, memilih jalan sunyi penyembuhan luka atas kekerasan yang mereka alami. Sekalipun kesempatan perempuan papua dalam ruang – ruang publik semakin terbuka, tetapi tantangan yang terbesar adalah memastikan kekuasaan dalam proses pembuatan keputusan yang menekankan kepentingan peran perempuan.
Mama Awin Keti dan Margaretha adalah dua sosok dengan pengalaman-pengalaman yang berbeda, namun berakar pada semangat yang sama: menanam sebagai wujud perlawanan dan pemulihan. Mama Awin dengan gerakan aktivisme dan advokasinya, bersuara lantang melawan ketidakadilan dan kekerasan negara. Margaretha menumbuhkan harapan lewat Rumah Noken, ruang literasi dan pendidikan bagi anak-anak, perempuan, dan lingkungan. Dari tanah, benih, dan kata-kata, keduanya menanam kehidupan baru. Bagi mereka, pendidikan adalah tonggak perjuangan untuk membangun kesadaran dan menumbuhkan kemerdekaan.
Kemerdekaan yang Tercerabut
Sejak integrasi Papua ke dalam Indonesia pada tahun 1962, harapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya bagi rakyat Papua perlahan tercerabut. Di tanah yang kaya akan emas dan hutan, justru luka yang tumbuh dari perampasan tanah oleh PT Freeport hingga kebijakan negara yang terus menyingkirkan rakyat adat dari ruang hidupnya. Kekerasan, pembunuhan dan operasi militer dilakukan atas nama pembangunan nasional, sementara masyarakat Papua kehilangan identitas, ruang hidup, dan kedaulatan atas tanahnya sendiri.
“Bagi kami merdeka berarti jangan menganggap kami separatis, ketika kami menggunakan simbol kebudayan dan berjuang atas tanah adat kami, kami berhak menggunakan atribut dan menjaga tanah adat kami”
