📢 SIARAN PERS Panggung Merdeka 100%: Merawat Imajinasi Politik Indonesia yang Layak Diperjuangkan

Jakarta, 17 Agustus 2025 – Prabowo dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2025 menyatakan Indonesia telah meraih “Delapan Kemerdekaan”: merdeka dari malnutrisi, impor beras, kemiskinan, kebodohan, pengangguran, keterbatasan layanan kesehatan, ketergantungan politik luar negeri, dan korupsi. Klaim itu dipromosikan pemerintah sebagai wujud keberhasilan 80 tahun kemerdekaan.

Namun, di balik gegap gempita klaim itu, Panggung Merdeka 100% menghadirkan suara berbeda dan suara alternatif: imajinasi politik rakyat tentang Indonesia yang benar-benar layak untuk diperjuangkan.

Pleno pembuka bertajuk “#Merdeka100%: Indonesia yang Kita Inginkan dan Layak untuk Diperjuangkan”menghadirkan empat pemantik lintas generasi dan komunitas: Mutiara Ika Pratiwi (Perempuan Mahardhika), Sumarsih(inisiator Aksi Kamisan), Sutami (Pusaka Bentala Rakyat), dan Diyah Wara Restiyati (Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia).

“Merdeka adalah proses menjadi, bukan sekadar proklamasi. Kemerdekaan harus terus direbut, melawan kapitalisme dan ideologi militerisme yang mengekang rakyat hari ini, kita butuh konsolidasi melawan ideologi yang menggunakan kekerasan dalam menghadapi semua, sekarang pemerintah terang-terangan memperluas struktur militerisme, tegas Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardhika.

Sementara itu, Sumarsih mengingatkan bahaya impunitas: “Indonesia menuju ke arah gelap. Tanpa penegakan hukum dan akuntabilitas atas pelanggaran HAM, mustahil rakyat hidup aman, damai, dan sejahtera. Reformasi 98 harus diteruskan, enam agendanya harus ditegakkan.”

Dari perspektif komunitas Tionghoa, Diyah Wara Restiyati menyoroti sejarah yang dihapus: “Sejak masa kolonial hingga Reformasi, orang Tionghoa selalu dijadikan kambing hitam. Padahal banyak tokoh Tionghoa, termasuk perempuan, yang berkontribusi besar bagi republik ini. Kami hanya menuntut satu: negara yang tidak diskriminatif, tanpa kekerasan dan stigma.”

Sutami menambahkan pentingnya merebut kembali pengetahuan sejarah: “Sejarah kita dipangkas pasca 1965. Proses dekolonisasi, kontribusi rakyat kecil, hingga suara kiri dipadamkan. Kita perlu membaca ulang sejarah, merebut agenda pengetahuan, dan menuliskannya kembali dari perspektif rakyat.”

Peserta yang hadir pun menggaungkan imajinasinya: “Kami ingin semua pelanggar HAM diadili. Kami ingin KKN hilang. Kami ingin gerakan kolektif rakyat yang lebih besar untuk melawan elit-elit yang menipu rakyat,” uraian para peserta.

👉 Dari pleno ini ditegaskan bahwa #Merdeka100% adalah perjuangan kolektif melawan kapitalisme, militerisme, impunitas, dan penindasan. Merdeka bukan hadiah, melainkan perjuangan yang harus terus diperbarui bersama rakyat.

📅 Acara berlangsung pada 17 Agustus 2025 pukul 11.00–22.00 WIB dan terbuka untuk peliputan media.

Perempuan Mahardhika

Comments

wave
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Press ESC to close