Refleksi Perjuangan Masyarakat Miskin Perkotaan – Dari Marjin Menuju Kuasa: Perjuangan untuk Keadilan di Masyarakat Miskin Perkotaan

Pengantar

Tulisan ini merupakan hasil pembelajaran dari kunjungan lapangan ke komunitas warga miskin kota di Manila, Filipina—terutama di kawasan bekas Smokey Mountain dan Junkshop Area. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian The 13th Asian Regional School (ARS) yang diikuti oleh partisipan dari berbagai perwakilan partai politik progresif dan organisasi sosial di Asia. Melalui interaksi langsung dengan komunitas, refleksi ini mencoba menggambarkan dinamika perjuangan warga miskin kota, khususnya peran sentral perempuan dalam membangun ketahanan kolektif dan memperjuangkan hak atas kota.

Apa yang terlihat di lapangan memperlihatkan bahwa pembangunan yang diklaim sebagai “modernisasi” seringkali menyisakan ketimpangan struktural, mengabaikan kerja-kerja reproduktif yang menopang kehidupan kota, dan mengorbankan ruang hidup komunitas miskin. Dengan merujuk pada teori right to the city dari David Harvey dan kerangka reproduksi sosial, tulisan ini hendak menyoroti bagaimana ketimpangan dan ketidakadilan kota hanya bisa dilawan melalui solidaritas akar rumput yang dipimpin oleh perempuan dan warga kampung kota sendiri.

 

Refleksi Perjuangan Warga Kampung Kota

Kami berdiri di depan bekas lokasi Smokey Mountain, Tondo-sebuah nama yang dahulu menjadi simbol kemiskinan ekstrem di Manila. Di sini, pada 1980-an, gunungan sampah menjulang tinggi, dihuni ribuan pemulung yang bertahan hidup dengan memungut sisa-sisa konsumsi warga kota. Kini, tanah itu telah berubah: bekas “gunung sampah” itu rata, digantikan bangunan-bangunan vertikal lima lantai yang dibangun tahun 2004. Asap tebal sudah lama hilang dari Smokey Mountain, tapi bau ketidakadilan masih menyengat. Kawasan bekas gunung sampah di Tondo, Manila ini kini berdiri bangunan-bangunan beton lima lantai—simbol “transformasi” yang digaungkan pemerintah. Namun, ketika kami menyusuri lorong-lorong sempit di antara bangunan itu, yang kami temukan bukanlah kisah sukses, melainkan sebuah pertanyaan besar: Siapa sebenarnya yang berhak atas kota ini?

Smokey Mountain , Junk Shop Area dan Ironi Pembangunan Kota

Pemerintah, dengan berbagai program beasiswanya, memang memberi harapan. Pada 2023, 376 siswa lulus dari sekolah di sekitar Smokey Mountain, banyak di antaranya dengan predikat tinggi. Tapi masalah mendasar lainnya masih menjadi keluhan: Bangunan mulai rusak, jumlah keluarga bertambah, perlindungan sosial minim.

Smokey Mountain dijadikan “contoh sukses”, tapi di lapangan, perubahan tidak menyentuh akar kemiskinan.

Di sisi lain, komunitas kedua hidup dalam kondisi yang jauh lebih rentan. Mereka tinggal di rumah-rumah apung yang mudah tersapu banjir dan badai, memaksa mereka membangun ulang tempat tinggal berulang kali. Pemerintah lokal dan nasional belum mampu menyediakan solusi relokasi yang aman tanpa mengorbankan sumber penghidupan utama mereka, yaitu memilah sampah. Penghasilan harian yang hanya berkisar 200–400 peso sangat minim, sementara hasil kerja mereka—memilah plastik yang kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah—lebih banyak menguntungkan perusahaan-perusahaan besar. Perempuan tetap menjadi pemimpin komunitas, sementara laki-laki bekerja di pelabuhan, menjadi sopir, pengangkut sampah, atau buruh harian tanpa perlindungan kerja dan sering menghadapi intimidasi serta pemerasan dari aparat.

Mereka adalah tulang punggung gerakan perlawanan terhadap proyek “modernisasi” yang akan mengubah tempat tinggal mereka menjadi pusat komersial. 

Ketahanan Kolektif dan Kepemimpinan Perempuan

Kunjungan ke dua komunitas pemulung di Smokey Mountain, Filipina, memperlihatkan kontras tajam antara ketahanan kolektif dan kerentanan struktural yang dihadapi masyarakat marginal. Komunitas pertama menjadi bukti nyata bagaimana solidaritas dan swadaya dapat membangun stabilitas di tengah keterbatasan. Selama tiga dekade, keluarga pemulung membangun sistem daur ulang sampah yang dikelola komunitas, membangun rumah, taman bermain, serta memastikan pendidikan bagi anak-anak mereka—semua dicapai melalui kerja kolektif yang dipimpin oleh perempuan. Para perempuan mengambil peran sentral dalam menjaga keberlangsungan ekonomi dan mengorganisir kehidupan sehari-hari, memperkuat fondasi komunitas meski harus menghadapi tantangan ruang dan pertumbuhan keluarga.

Ketidakadilan Struktural dan Tuntutan Keadilan

Kisah para pemulung ini menegaskan ironi bahwa mereka yang mengelola limbah kota justru diperlakukan seolah-olah mereka sendiri adalah pinggiran. Padahal, melalui kerja keras dan ketahanan mereka, komunitas ini berkontribusi pada keberlanjutan kota dan menyediakan layanan vital yang sering diabaikan negara. Tuntutan mereka atas hak kesehatan, perumahan, dan perlindungan kerja adalah tuntutan yang adil dan pantas diperjuangkan bersama. Kisah seorang pemimpin muda yang telah bekerja sejak usia delapan tahun menggambarkan siklus kemiskinan yang sulit diputus tanpa perubahan struktural yang menyeluruh. Namun, di tengah keterbatasan, semangat kolektif dan perlawanan perempuan menjadi kekuatan revolusioner yang layak diapresiasi dan didukung.

Kota adalah hasil kolektif kerja manusia, tapi justru dikuasai oleh segelintir elit yang mengubahnya menjadi mesin akumulasi kapital. Smokey Mountain dan Junkshop Area adalah contoh nyata:

Seperti dikatakan Harvey, “Kota yang baik bukanlah yang menarik investasi, tapi yang memenuhi hak dasar warganya.” Di Smokey Mountain, meski anak-anak kini bisa sekolah, orang tua mereka tetap terjebak dalam pekerjaan informal—sopir jeepney, pedagang kaki lima, atau buruh harian. 

Kota sebagai Produk Kolektif

Harvey menulis bahwa hak atas kota (right to the city) bukan hanya soal akses individu terhadap sumber daya kota, tetapi hak kolektif untuk mengubah dan membentuk kota sesuai keinginan bersama. Transformasi kota, menurut Harvey, hanya mungkin melalui kekuatan kolektif masyarakat yang terlibat dalam proses urbanisasi

Kolektivitas dan Urbanisasi: Dalam karya-karyanya, Harvey menegaskan bahwa kota dibentuk oleh kerja kolektif banyak pihak—buruh, pekerja informal, komunitas, dan kelompok sosial lain—yang bersama-sama membangun, memelihara, dan menciptakan kehidupan kota. Namun, hasil kerja kolektif ini sering kali diambil alih atau dimonopoli oleh segelintir elite atau kapitalis melalui proses komodifikasi ruang kota. Harvey juga menyatakan bahwa kebebasan untuk membuat dan membentuk ulang kota dan diri kita sendiri adalah salah satu hak asasi manusia yang paling berharga, namun sering diabaikan. Hak ini bersifat kolektif, karena transformasi kota hanya bisa terjadi melalui kekuatan bersama, bukan individu. 

Analisis Reproduksi Sosial dan Perjuangan Perempuan Miskin Kota  di Smokey Mountain dan Junkshop Area

Kisah dua komunitas pemulung di kawasan bekas Smokey Mountain dan Junkshop Area di Manila tidak hanya menggambarkan ketimpangan ekonomi dan kerentanan lingkungan, tetapi juga menyoroti peran penting perempuan dalam reproduksi sosial dan perjuangan kolektif. Reproduksi sosial di sini mencakup segala aktivitas yang mendukung keberlangsungan hidup komunitas, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, perawatan anak, pengorganisasian rumah tangga, hingga pengelolaan sumber daya komunitas. Perempuan menjadi aktor utama dalam proses ini, mengemban tanggung jawab berlapis sebagai pengurus rumah tangga sekaligus pemimpin komunitas yang menggerakkan solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Dalam konteks perjuangan mereka, perempuan tidak hanya menjaga keberlangsungan hidup keluarga secara fisik dan emosional, tetapi juga secara politik mengorganisir komunitas untuk menuntut hak atas perumahan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak. Kepemimpinan perempuan di kedua komunitas ini memperlihatkan bagaimana reproduksi sosial menjadi medan perjuangan yang strategis, di mana perempuan membangun jaringan solidaritas, mengelola sumber daya swadaya, dan mengadvokasi perubahan struktural. Dengan menggabungkan peran domestik dan publik, perempuan mampu menegaskan eksistensi komunitas mereka di tengah tekanan modernisasi yang mengancam ruang hidup dan mata pencaharian mereka.

Lebih jauh, perjuangan perempuan di Smokey Mountain dan Junkshop Area juga menantang narasi pembangunan kota yang sering kali mengabaikan aspek sosial dan kemanusiaan. Mereka menunjukkan bahwa pembangunan yang berkeadilan harus mengakui dan mendukung reproduksi sosial sebagai fondasi keberlanjutan komunitas. Dalam kerangka pemikiran ini, perempuan dan warga kampung kota ini menegaskan bahwa hak atas kota bukan hanya soal akses fisik, tetapi juga hak kolektif untuk membentuk dan mempertahankan ruang hidup yang inklusif dan berkeadilan. Perjuangan mereka adalah contoh nyata bahwa perubahan sosial yang sejati hanya bisa terwujud melalui solidaritas kolektif dan pengakuan terhadap kerja reproduktif yang selama ini sering terabaikan.

Perjuangan warga kampung kota bukanlah fenomena yang terbatas pada satu negara saja, melainkan terjadi secara global dan saling terhubung. Di Indonesia, misalnya, warga miskin kota di salah satu komunitas kampung kota Jakarta telah membangun koperasi dan mewujudkan perumahan kolektif sebagai bentuk perlawanan terhadap penggusuran dan ketidakadilan perumahan. Upaya ini mencerminkan semangat yang sama dengan perjuangan komunitas pemulung di Manila, di mana solidaritas dan organisasi kolektif menjadi kunci untuk mempertahankan hak atas kota dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, gerakan rakyat miskin kota di berbagai negara saling belajar dan menguatkan satu sama lain dalam menghadapi tantangan yang serupa, menunjukkan bahwa perjuangan mereka adalah bagian dari gerakan global untuk keadilan sosial dan hak atas kota.

Perempuan dan Warga Kampung Kota di Manila dan Indonesia  sangat menunjukkan bagaimana perubahan sosial dan keadilan mesti diperjuangkan bersama dari bawah secara kolektif dan belas kasih pemerintah bahkan tidak berguna. 

 

———

English Version

Reflections on the Struggles of Urban Poor Communities 

From Margins to Power: The Fight for Justice in Urban Poor Communities

Introduction

This piece is a reflection based on a field visit to urban poor communities in Manila, Philippines—specifically in the former Smokey Mountain and Junkshop Area. The visit was part of the 13th Asian Regional School (ARS), which brought together participants from various progressive political parties and social organizations across Asia. Through direct engagement with the communities, this reflection seeks to highlight the struggles of the urban poor, particularly the central role of women in building collective resilience and asserting the right to the city.

What we witnessed on the ground revealed that so-called “modernization” often reinforces structural inequalities, neglects the reproductive labor that sustains urban life, and displaces marginalized communities. Drawing on David Harvey’s theory of the right to the city and the framework of social reproduction, this piece aims to show how urban injustice can only be challenged through grassroots solidarity led by women and urban poor residents themselves.

—————————————–

We stood in front of the former site of Smokey Mountain, Tondo–a name that once symbolized extreme poverty in Manila. Here, in the 1980s, mountains of garbage towered high, inhabited by thousands of scavengers who survived by picking through the remnants of the city’s consumption. Today, that land has changed: the former “mountain of trash” has been leveled, replaced by five-story vertical buildings constructed in 2004. The thick smoke has long disappeared from Smokey Mountain, but the stench of injustice still lingers. The former garbage mountain area in Tondo, Manila, now stands with five-story concrete buildings—a symbol of the “transformation” touted by the government. Yet, as we walked through the narrow corridors between these buildings, what we found was not a story of success, but a big question: Who truly has the right to this city?

Smokey Mountain, Junk Shop Area, and the Irony of Urban Development

The government, with its various scholarship programs, does offer hope. In 2023, 376 students graduated from schools around Smokey Mountain, many with high honors. But other fundamental problems remain: buildings are starting to deteriorate, the number of families is increasing, and social protection is minimal.

Smokey Mountain is held up as a “success story,” but on the ground, the changes do not address the roots of poverty.

On the other hand, the second community lives in much more vulnerable conditions. They reside in floating houses that are easily swept away by floods and storms, forcing them to rebuild their homes again and again. Local and national governments have not been able to provide safe relocation solutions without sacrificing their main source of livelihood: waste sorting. Their daily income, only around 200–400 pesos, is very minimal, while the results of their work, sorting plastics that are then processed into value-added products mostly benefit large companies. Women remain the leaders of the community, while men work at the port, as drivers, waste collectors, or day laborers without job protection and often face intimidation and extortion from authorities.

They are the backbone of the resistance movement against “modernization” projects that would turn their homes into commercial centers.

Collective Resilience and Women’s Leadership

A visit to the two scavenger communities in Smokey Mountain, Philippines, reveals a stark contrast between collective resilience and the structural vulnerability faced by marginalized communities. The first community is living proof of how solidarity and self-organization can build stability amid limitations. Over three decades, scavenger families have built a community-managed waste recycling system, constructed homes, playgrounds, and ensured education for their children, all achieved through collective work led by women. Women play a central role in sustaining the economy and organizing daily life, strengthening the community’s foundation even as they face challenges of space and growing families.

Structural Injustice and Demands for Justice

The stories of these scavengers underscore the irony that those who manage the city’s waste are themselves treated as if they are disposable. Yet, through their hard work and resilience, these communities contribute to urban sustainability and provide vital services often ignored by the state. Their demands for health rights, housing, and labor protection are fair and deserve to be fought for together. The story of a young leader who has worked since the age of eight illustrates a cycle of poverty that is difficult to break without thorough structural change. However, amid these limitations, the collective spirit and resistance of women become a revolutionary force that deserves recognition and support.

The city is the collective product of human labor, yet it is controlled by a handful of elites who turn it into a machine for capital accumulation. Smokey Mountain and the Junk Shop Area are clear examples:

As Harvey said, “A good city is not one that attracts investment, but one that fulfills the basic rights of its citizens.” In Smokey Mountain, even though children can now go to school, their parents remain trapped in informal jobs: jeepney drivers, street vendors, or day laborers.

The City as a Collective Product

Harvey writes that the right to the city is not just about individual access to urban resources, but a collective right to transform and shape the city according to shared aspirations. Urban transformation, according to Harvey, is only possible through the collective power of society involved in the urbanization process.

Collectivity and Urbanization: In his works, Harvey emphasizes that the city is built by the collective labor of many parties workers, informal laborers, communities, and other social groups who together build, maintain, and create urban life. However, the results of this collective labor are often appropriated or monopolized by a handful of elites or capitalists through the commodification of urban space. Harvey also states that the freedom to create and remake the city and ourselves is one of the most precious yet often overlooked human rights. This right is collective, because urban transformation can only happen through collective, not individual power.

Analysis of Social Reproduction and the Struggles of Urban Poor Women in Smokey Mountain and Junk Shop Area

The stories of the two scavenger communities in the former Smokey Mountain and Junk Shop Area in Manila not only illustrate economic inequality and environmental vulnerability, but also highlight the vital role of women in social reproduction and collective struggle. Social reproduction here encompasses all activities that support the community’s survival, from meeting basic needs, childcare, household organization, to managing community resources. Women are the main actors in this process, bearing layered responsibilities as household managers as well as community leaders driving solidarity and resistance against injustice.

In their struggle, women not only maintain the physical and emotional survival of their families, but also politically organize the community to demand rights to housing, health, and decent work. Women’s leadership in both communities shows how social reproduction becomes a strategic arena of struggle, where women build networks of solidarity, manage self-help resources, and advocate for structural change. By combining domestic and public roles, women assert the existence of their communities amid the pressures of modernization that threaten their living spaces and livelihoods.

Furthermore, the struggles of women in Smokey Mountain and Junkshop Area also challenge urban development narratives that often ignore social and humanitarian aspects. They demonstrate that equitable development must recognize and support social reproduction as the foundation of community sustainability. In this framework, women and urban poor residents affirm that the right to the city is not just about physical access, but also the collective right to shape and maintain inclusive and just living spaces. Their struggle is living proof that genuine social change can only be realized through collective solidarity and recognition of reproductive labor that has long been overlooked.

The struggles of urban poor residents are not a phenomenon limited to one country, but occur globally and are interconnected. In Indonesia, for example, urban poor residents in one of Jakarta’s kampung communities have built cooperatives and realized collective housing as a form of resistance against eviction and housing injustice. This effort reflects the same spirit as the struggles of scavenger communities in Manila, where solidarity and collective organization are key to defending the right to the city and creating a more sustainable future. Thus, the movements of the urban poor in various countries learn from and strengthen each other in facing similar challenges, showing that their struggles are part of a global movement for social justice and the right to the city.

Women and urban poor residents in Manila and Indonesia clearly demonstrate how social change and justice must be fought for collectively from the ground up, and that government compassion alone is never enough.



Afifah

Koordinator Dept Pendidikan Komite Nasional Perempuan Mahardhika

Partisipan Sekolah Asia IIRE Manila

Comments

wave
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Press ESC to close