Saat ini saya berharap bisa ada di Mesir. Ribuan aktivis tumpah ruah di kota tersebut untuk menuju Rafah dan memaksa Israel membuka blokade penyaluran makanan dan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Rafah adalah kota di bagian selatan Gaza yang berbatasan langsung dengan Mesir dan menjadi titik perbatasan strategis yang selama ini dikontrol ketat oleh tentara Israel.
Hampir 2.000 aktivis dari seluruh Afrika Utara memulai perjalanan pada hari Senin (9 Juni 2025) lalu dari ibukota Tunisia dan telah mencapai kota Zawiya – Libya pada hari Selasa. Mereka menyebut perjalanan itu sebagai Konvoi Resiliensi Maghreb (Sumud). Aktivis dari 50 negara yang berbeda juga diperkirakan akan menuju Kairo – Mesir.
Konvoi diatas bertepatan dengan pencegatan tentara Israel pada kapal pembawa bantuan “Madleen” yang mencoba menembus blokade Israel ke Gaza melalui jalur laut dan penculikan 12 orang aktivis yang berada didalamnya, termasuk aktivis perempuan muda dan lingkungan Greta Thurnberg.
The Integrated Food Security Phase Classification (IPC), kelompok yang menganalisis dan mengklasifikasikan tingkat malnutrisi akut melaporkan bahwa 93% atau sekitar 930.000 anak-anak di Gaza menderita kelaparan. Sebanyak 71.000 diantaranya adalah balita yang menderita malnutrisi akut.
Seakan tidak cukup dengan membuat rakyat Palestina termasuk anak dan balita menderita kelaparan, Pemerintah Israel menggunakan situasi keputus-asaan tersebut untuk melancarkan serangan pada orang-orang yang berebutan mencari makanan di titik-titik pendistribusian bantuan. Lebih dari 130 orang terbunuh dan 700 orang luka-luka oleh pasukan Israel saat berebutan mencari makan di pusat bantuan yang dioperasikan oleh Gaza Humanitarian Fund (GHF), inisiatif penyalur bantuan yang dipimpin oleh AS dengan dukungan Israel. Kantor Media Pemerintah Gaza mengecam lokasi distribusi tersebut sebagai “rumah jagal”, dan menuduh pasukan Israel memancing warga sipil yang putus asa menuju kematian mereka.
Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Israel terhadap rakyat Palestina jelas adalah genosida. Namun tidak begitu bagi pemimpin-pemimpin dunia baik di belahan utara maupun negara-negara Arab yang selama 19 bulan ini berdiri di balik tembok keheningan atas “siaran langsung” genosida yang terjadi.
Meski hanya mengamati lewat sosial media, tapi keberanian dan inisiatif dari para aktivis yang berusaha untuk menembus secara langsung blokade Israel adalah sebuah pesan solidaritas internasional untuk Palestina yang sangat nyata dapat saya rasakan.
Kekuatan tentara Israel dengan senjata, bom dan alat-alat pemusnah lainnya tentu saja jauh lebih besar daripada kapal kecil pembawa bantuan atau pawai warga. Namun justru pesan solidaritas, strategi anti-kekerasan, dan keberanian menghadapi resiko itulah kekuatan yang sulit dihancurkan oleh persenjataan Israel dan yang akhirnya memaksa pemimpin-pemimpin negara bersuara.