Jika kita mendengar nama Nawal El-Saadawi kita akan mengingat beliau sebagai penulis yag juga berprofesi sebagai dokter dari Mesir yang mengguncang iklim politik Arab. Karya-karyanya dikenal banyak orang dan tulisannya telah mengubah pemikiran generasi muda hari ini. Namun Nawal sendiri menolak mengidentifikasi dirinya dengan hanya sebutan perempuan Arab. Menurutnya identitas yang dimilikinya sangat beragam dan berlapis.

“Saya datang dari keturunan Afrika, Asia dan Eropa hingga Islandia, dari Mesir yang memiliki banyak tuhan hingga filosofi Hindu dan agama-agama monoteis. Semua orang adalah hasil dari percampuran darah, semakin kamu merupakan campuran, maka semakin baik,” ucap Nawal terhadap Majalah NewAfrican.

Nawal mengkritisi Politik Identitas karena merupakan hasil dari bahasa kapitalis kolonial dan “post-modernism”. Ia menentang gagasan darah murni karena menurutnya hal ini sangat rasis dan berasal dari para penjajah. “Identitas saya tidak fix (terpatokkan), ia bukanlah jaket besi, namun terus berubah dan berlapis dan terus bertambah lapisannya (red).”

Ia mengkritisi bagaimana kita dipaksa untuk bisa berbahasa Inggris atau Perancis dan berupaya berefleksi atas penjajahan yang telah menjajah pemikiran kita mengenai bahasa dan kehidupan kita itu sendiri. Ia melihat bahwa negara-negara kolonial yang berkuasa dan kuat secara ekonomi hingga hari ini adalah negara kapitalis berbahasa Inggris dan Perancis. Oleh karenanya ia sangat menentang segala bentuk penjajahan karena penjajahan telah menindas para perempuan sebelum dirinya.

Hasrat Nawal untuk melawan segala bentuk penjajahan terdorong dari fakta bahwa perempuan-perempuan sebelumnya yaitu neneknya merupakan perempuan yang melawan ketika mendapatkan penindasan. Kala itu, neneknya membentuk kelompok pemberontakan perempuan terhadap penjajah Inggris dan para lelaki yang ikut dalam menguasai desa mereka. Neneknya melawan karena hasil kapas yang ia tanam dijual dengan harga yang sangat murah kepada raja dan Manchester (industri tekstil Inggris).

Yang membuat Nawal makin tergugah adalah pemiskinan yang dialami neneknya. Neneknya berternak ayam dan menghasilkan telur namun ia tak pernah bisa merasakan dan memakan hasil ternak mereka sendiri. Neneknya menjual hasil ternaknya kepada orang-orang kaya di kota.

Karena pemiskinan dan penindasan yang dialami oleh perempuan sebelum Nawal, ia menamakan gerakannya historical socialist-feminists. Dalam hal ini ia melihat bahwa penidasan terhadap perempuan terjadi karena adanya penjajahan serta dominasi lelaki yang terjadi secara struktural baik dalam lingkungan keluarga dan tatanan imperialis dunia. Penindasan terhadap perempuan tidak lepas dari sejarah perempuan mesir yang dijajah oleh Inggris, sehingga konteks dan perjuangan untuk melawan segala bentuk dominasi termasuk penjajahan gaya baru harus dilawan.

Karena menentang penjajahan, Nawal El-Saadawi sering dibungkam ketika ia berbicara mengenai neokolonialisme atau penjajahan gaya baru. Dalam salah satu kesaksiannya, ia bercerita kepada Marxist Humanist Initiative, ketika itu ia diminta menjadi narasumber yang akan diwawancarai oleh Christiane Amanpour di Amerika Serikat. Bagian dimana ia menjelaskan mengenai dampak neo-colonialism terhadap perempuan di potong dan ia diminta untuk tidak membicarakannya dalam acara TV tersebut.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berusaha membungkam dirinya, sangat erat kaitannya dengan colonial gaze atau pandangan kolonial yang melihat bahwa orang yang tinggal di negara selain dari negara-negara global utara, dianggap terbelakang dan tidak berpendidikan. Orang-orang global south sering dianggap biadab dan tidak memiliki adab dan tingkah laku yang dianggap tak layak seperti di negara global utara. Oleh karena itu mereka harus tunduk pada peradaban Barat dan mengikuti cara mereka.

Pandangan ini juga terus menghasilkan pemikiran bahwa perempuan-perempuan yang mereka anggap dari dunia ketiga, adalah perempuan yang harus diselamatkan dari keterpurukkan dan fundamentalisme agama oleh negara global utara. Melalui kacamata colonial gaze ini maka segala bentuk perlawanan perempuan terhadap penjajahan tidak akan dilihat dan tidak akan diakui.

Nawal pun menerangkan bahwa penjajahan menghasilkan fundamentalisme agama di abad 21. “Hal ini terjadi karena (red) agama bertahan dan berkembang pesat di bawah tekanan. Fundamentalisme agama (red) Islam, Yahudi dan Kristen sangat mirip dalam memperlakukan perempuan sebagai inferior, dalam rasa takut terhadap orang luar, dan dalam rasisme dan klasisme. Walaupun demikian, saya percaya bahwa kita harus melindungi kebebasan dalam beragama.”

Kesaksian Nawal mencerminkan bagaimana negara-negara kapitalis enggan menolak mengakui adanya penjajahan dan bentuk penjajahan gaya baru. Bahkan orang-orang yang dianggap progresif dalam memperjuangkan hak-hak dan menyampaikan kebennaran juga seringkali memiliki bias terhadap subjeknya dan hal ini berakar dari neo-kolonialisme.

Penindasan terhadap perempuan itu tidak hanya terjadi dibawah fundamentalisme agama saja namun telah ada sejak jaman penjajahan. Nawal meggunakan perspektif sejarah dalam memahami dan melihat persoalan perempuan di Mesir dan di belahan dunia manapun. Ia tidak takut untuk mendobrak feminisme yang sering dianggap produk Barat, sehingga ia mematahkan mitos tersebut dan menerangkan bahwa gagasan feminisme ada di dalam setiap budaya gerakan perempuan mencari keadilan.

Sistem ekonomi kapitalis yang merugikan perempuan adalah perpanjangan dari penjajahan. Hingga kini kamu masih bisa melihat bagaimana investasi datang dari negara asing ke dalam sebuah negara untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Keuntungan itu tidak akan pernah masuk kepada perempuan yang ditindas atau buruh yang diupah rendah, namun ia akan Kembali kepada para pemilik modal yang terus menjajah dengan dalih pembangunan dan kemajuan.

Sudah saatnya gerakan perempuan menjadi lebih historis dan paham akan sejarah penidasan perempuan berdasarkan pengalaman perempuan sebelum kita yang erat berkaitan dengan penjajahan. Tanpa perspektif sejarah kita tidak akan bisa mendobrak dominasi dan kekuasaan patriarki dan kapitalisme yang terus berkelindan menindas perempuan.

+ posts

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.