Konferensi Pers Online Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela
Situasi dunia yang semakin darurat akibat agresi militer dan praktik imperialisme mendorong berbagai organisasi rakyat di Indonesia menyatakan sikap bersama. Pada Senin, 5 Januari 2026, Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela menggelar konferensi pers online bertajuk “Mengecam Agresi Militer Amerika Serikat terhadap Venezuela”.
Solidaritas ini terbentuk sebagai respon atas agresi militer Amerika Serikat, embargo ekonomi berkepanjangan, serta tindakan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores oleh pemerintahan Donald Trump. Organisasi – organisasi rakyat di Indonesia menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara, hukum internasional, dan hak rakyat Venezuela untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dian Septi dari Marsinah.id menerangkan bagaimana kaitan perang imperialisme ini dengan beban yang ditanggung rakyat, ia menegaskan bahwa agresi militer Amerika Serikat ke Venezuela tidak bisa dilepaskan dari kepentingan imperialisme global, terutama karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
“Apa yang terjadi di Venezuela bukan perang antarbangsa, melainkan perang negara-negara imperialis untuk akumulasi modal. Rakyat menjadi penanggung utama, kerja perawatan dan kespro tubuh perempuan kembali diabaikan, karena tanpa situasi perang pun hak-hak ini sudah sering diabaikan apalagi dalam situasi pengeboman” tegas Dian.
Ia juga mengingatkan bahwa perang ini tidak hanya merugikan rakyat Venezuela, tetapi juga rakyat Amerika Serikat sendiri.
“Pajak rakyat Amerika dibayarkan bukan untuk kepentingan publik, melainkan untuk membiayai perang imperialisme.”
Dian menekankan pentingnya membangun konsolidasi politik anti-imperialisme lintas batas negara. Saat ini, banyak rakyat dan gerakan di berbagai negara telah melakukan aksi-aksi perlawanan terhadap agresi Amerika Serikat. Penyerangan AS ke Venezuela memiliki pola yang sama dengan agresi Israel terhadap Palestina: kekerasan militer digunakan untuk mempertahankan kepentingan imperialisme dan akumulasi modal. Karena itu, Dian juga menyerukan tentang perlunya satu barisan perlawanan anti-imperialis yang solid, khususnya untuk membela rakyat Venezuela dan negara-negara Amerika Latin. Pertarungan melawan imperialisme bukanlah perjuangan jangka pendek, melainkan pertarungan jangka panjang, sehingga perlawanan rakyat juga harus dibangun secara berkelanjutan, terorganisir, dan lintas negara.
“Di sisi lain, pemerintah Indonesia hingga kini tidak menunjukkan sikap tegas, baik terhadap agresi Israel di Palestina maupun terhadap agresi Amerika Serikat ke Venezuela. Kondisi ini memperlihatkan lemahnya keberpihakan negara pada prinsip keadilan global dan kemerdekaan bangsa-bangsa.”
“Oleh karena itu, penting untuk terus mendesak sanksi dan tekanan global terhadap Amerika Serikat sebagai negara imperialis yang secara sistematis merusak perdamaian dunia dan melanggar kedaulatan negara-negara berdaulat.”
Sari Wijaya dari YAPPIKA & FPPI mengkritik keras kontradiksi Amerika Serikat sebagai negara adidaya pasca Perang Dunia II.
“AS mengklaim mendukung perdamaian dunia melalui PBB, tetapi justru menggunakan pendekatan perang atas nama stabilitas dan perdamaian dunia.”
Menurut Sari, perang yang dilakukan AS bukan sekadar kebijakan luar negeri, melainkan desain sistemik untuk menopang kapitalisme global.
“Pendekatan perang ini melegitimasi kepentingan elit global, dari industri senjata hingga eksploitasi minyak dan sumber daya fosil.”
Ia juga mengingatkan bahaya preseden ini bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia.
“Venezuela memang sedang krisis politik dan otoriter Maduro, namun agresi AS bukan penyelesaian masalah, tapi malah mempertebal imperialisme, dengan alasan perang melawan narkoba tetapi melangggar kedaulatan negara lain, preseden bahaya bahawa militer bisa menggantikan kedaulatan rakyat dan negara. Jika intervensi militer terhadap negara berdaulat dilegitimasi, ruang demokrasi akan semakin menyempit, belanja senjata meningkat, dan pembungkaman sipil menjadi hal yang dianggap wajar.”
Jumisih dari JALA PRT menegaskan bahwa agresi dan intervensi militer Amerika Serikat merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan prinsip non-intervensi PBB.
“Perdamaian tidak akan pernah lahir dari bom dan sanksi ekonomi.”
Ia menekankan bahwa kelompok yang paling menderita dari agresi dan embargo adalah para pekerja.
“Pekerja di sektor minyak, pangan, layanan publik, obat-obatan, dan layanan sosial menjadi korban langsung dari kebijakan imperialisme.”
Divar dari ILPS menyatakan bahwa serangan terhadap Venezuela adalah serangan terhadap prinsip penentuan nasib sendiri.
“Ini bukan hanya soal minyak dan sumber daya alam, tetapi upaya menghancurkan sistem Lingkar Bolivarian yang secara konsisten melawan imperialisme AS.”
Ia menilai Venezuela dijadikan musuh karena keberpihakannya pada negara-negara yang menentang dominasi Amerika Serikat.
“Bagi Trump, Maduro harus diganti dengan rezim yang pro-AS dan berdiri melawan musuh-musuh AS. Inilah logika imperialisme.”
Divar menegaskan pentingnya membangun gerakan anti-imperialisme dan anti-fasisme di Indonesia sebagai bagian dari solidaritas global.
Daniel Frits, Pejuang Lingkungan, mengaitkan perjuangan rakyat Venezuela dengan kondisi rakyat dan solidaritas ruang hidup dari Indonesia.
“ Solidaritas kepada rakyat Venezuela dalam ruang hidup dan kedaulatannya yang dirampas juga diberikan rakyat Jepara, dari Kepulauan Karimunjawa sampai dataran tinggi Sumberrejo yang juga sedang mengalami perampasan ruang hidup dan kedaulatannya.”
Mutiara Ika dari Perempuan Mahardhika menegaskan bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat merupakan bentuk perang kolonial modern.
“Kami menyampaikan solidaritas dengan menekankan bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat merupakan pemaksaan perang kolonial, seperti yang kita lihat pola yang sama di Gaza dan genosida terhadap rakyat Palestina.”
Ia menjelaskan bahwa embargo ekonomi selama lebih dari dua dekade telah menciptakan kemiskinan massal di negara-negara yang menentang imperialisme AS.
“Embargo ekonomi yang dipaksakan Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade terhadap negara-negara Amerika Latin yang menentang imperialisme AS telah menyebabkan kemiskinan massal. Embargo ekonomi ini menutup pendapatan negara dari perdagangan minyak sehingga tidak ada pemasukan untuk kebutuhan nasional.”
“Embargo ekonomi tersebut juga diiringi dengan serangan militer yang dipaksakan terhadap negara Venezuela, dengan puncaknya pada Sabtu kemarin berupa penculikan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores, serta pengambilalihan oleh Amerika Serikat secara terang-terangan yang mengelola Venezuela di tengah kekosongan politik saat ini.”
Menurut Mutiara, sebagai bangsa yang lahir dari perjuangan melawan penjajahan, rakyat Indonesia memiliki tugas sejarah.
“Sebagai bangsa yang gigih melawan penjajahan negara-negara lain dan pemiskinan negara, maka menjadi tugas sejarah untuk melawan apa yang sedang terjadi, menentang penjajahan yang terjadi di Venezuela dan seluruh Amerika Latin.”
“Kita tidak ingin lagi melihat kelaparan global, kemiskinan akut, serta saudara-saudara di Palestina yang mengalami keputusasaan politik yang sangat brutal dan mengkhianati kebijakan internasional. Kita tidak ingin hal itu kembali terjadi di negara lain.”
“Solidaritas ini juga berarti melawan segala bentuk penjajahan di negara lain. Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela juga akan melakukan aksi besok siang pukul 14.00 WIB di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat.”
Syofyan dari Serikat Awak Kapal menyoroti dampak blokade dan agresi AS terhadap sektor pelayaran.
“Blokade dan perang berdampak langsung pada pelaut dan awak kapal yang terlantar serta ketidakstabilan ekonomi global. Sehingga perjuangan kita juga harus melawan serangan AS ini”
Triana dari Seruni menyampaikan kecaman keras terhadap invasi dan penculikan yang dilakukan Amerika Serikat.
“Pemerintah AS membuktikan dirinya sebagai teroris nomor satu di dunia, berupaya menggulingkan pemerintahan independen dan menggantinya dengan rezim boneka demi menguasai minyak.”
Ia menegaskan bahwa keberanian rakyat Venezuela menjadi inspirasi bagi rakyat dunia.
“Perlawanan rakyat Venezuela memberi harapan dan keberanian untuk melawan invasi dan imperialisme di mana pun.”
Seruan Aksi dan Solidaritas Internasional Melawan Imperialisme
Sebagai tindak lanjut solidaritas, Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela menyatakan akan menggelar aksi pada Selasa, 6 Januari 2026 pukul 14.00 WIB, di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, sebagai bentuk kecaman terhadap agresi militer dan dukungan nyata bagi rakyat Venezuela.
Solidaritas ini menegaskan bahwa perjuangan melawan imperialisme adalah perjuangan bersama lintas bangsa demi kedaulatan rakyat, keadilan global, dan dunia tanpa penjajahan.
Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela menilai bahwa tatanan internasional hari ini telah gagal melindungi rakyat dari kekerasan imperialisme. Mekanisme hukum internasional sering dilumpuhkan oleh kepentingan negara-negara besar, sementara pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyat sipil terus dibiarkan, baik di Palestina, Venezuela, maupun berbagai negeri di Global Selatan lainnya sehingga suara kolektif gerakan rakyat, termasuk gerakan perempuan, menjadi semakin penting untuk menantang legitimasi kekerasan imperialis.
Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela menyerukan kepada seluruh masyarakat sipil, serikat buruh, organisasi perempuan, gerakan pemuda, komunitas akademik, dan seluruh kekuatan rakyat di Indonesia untuk menyatakan sikap dan mengambil tindakan nyata. Aksi solidaritas, kampanye publik, tekanan politik, dan kerja sama internasional yang terkoordinasi harus terus dikembangkan untuk menghentikan agresi imperialis Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Bersama rakyat Amerika Latin dan seluruh bangsa yang menolak penjajahan, Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela menegaskan komitmen untuk memperjuangkan dunia yang damai, dunia di mana perdamaian dijamin oleh keadilan sosial dan kedaulatan rakyat, bukan oleh bom, pendudukan militer, dan kekerasan imperialis.
Sebagai bagian dari sikap tersebut, Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela menyampaikan tuntutan: pembebasan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, penghentian segera kekerasan bersenjata dan perang ekonomi, penegasan hak penentuan nasib sendiri rakyat Venezuela tanpa intervensi asing, serta akuntabilitas internasional atas seluruh pelanggaran HAM dan hukum humaniter, dengan menempatkan keselamatan perempuan dan rakyat sipil sebagai pusat penyelesaian konflik.
Solidaritas ini juga menjadi seruan kepada Pemerintah Indonesia untuk membuktikan keberpihakannya pada prinsip anti-penjajahan, dengan menegakkan Piagam PBB dan hukum internasional, serta menentang dan memutus hubungan ekonomi, politik, budaya, dan militer yang tidak adil dan tidak setara dengan imperialisme Amerika Serikat.