Menurut Aleta, masyarakat Mollo seharusnya hanya menjual apa yang mereka hasilkan. Mereka tidak bisa menjual sungai, tanah atau gunung. Saat ini ia, Lodia dan perempuan lainnya masih menganut filosofi tersebut. Namun ia tidak bisa menghalangi orang-orang yang menganut filosofi yang lain, salah satunya adalah rela menghancurkan alam untuk kepentingan finansial mereka. – Penggalan narasi Febriana Firdaus dalam film Tanah Ibu Kami.

Film Tanah Ibu Kami mengikuti Febriana Firdaus, seorang jurnalis independen yang pergi ke empat daerah di Indonesia dimana Perempuan-perempuan desa menghadapi eksploitasi lahan dan lingkungan bertubi-tubi, baik itu untuk pembangunan pabrik, perkebunan sawit hingga pertambangan. Febriana mewawancarai berbagai perempuan yang terlibat dalam melawan korporasi dan turut berdampak karena perlawanan yang mereka lakukan. Ia mengunjungi Kartini Kendeng di Kendeng – Jawa Tengah, Mama Aleta Baun di Mollo – Nusa Tenggara Timur, Eva Bande di Banggai – Sulawesi Tengah dan Far Wiza di Aceh.

Film ini memberikan begitu banyak nilai yang bisa kita petik. Ketika kita menonton film yang digarap oleh Gecko Project dan Mongabay ini banyak menyorot bagaimana perempuan yang bergerak secara bergerilya melawan konsesi lahan oleh pemerintah. Apa yang dilakukan perempuan-perempuan ini bisa kita tiru untuk membangun gerakan dalam lingkungan terdekat kita.

Ada beberapa nilai yang bisa kita petik. Nilai-nilai ini menjadi identik bagi pergerakan perempuan karena sifatnya yang cair, menguatkan dan non-hirarki.

Bergerak dari Akar Rumput

Perempuan-perempuan yang ditemui Febriana dari para Kartini Kendeng, Mama Aleta Baun hingga Eva Bande bergerak dari bawah karena mereka menyadari bahwa dampak dari kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung pada kehidupan mereka. Kehidupan perempuan yang dekat dengan air dan alam membuat mereka menyadari bahwa pencemaran lingkungan dapat menghambat perempuan menjalani tugas hariannya.

Krisis air bersih dapat membuat perempuan kesulitan mengakses air untuk minum, memasak, mencuci, bahkan untuk bertani. Air merupakan kebutuhan dasar perempuan yang begitu dekat dengan tubuh perempuan. Tanpa adanya air bersih maka ia tidak bisa menumbuhkan makanannya sendiri dan dijauhkan dari kesehatannya dirinya dan keluarganya.

Mendobrak Konstruksi Gender

Para perempuan didalam film Ibu Tanah Kami menyadari bahwa untuk dapat melawan kezaliman maka mereka harus berani mendobrak konstruksi gender yang ada di masyarakat. Inilah yang dilakukan oleh Mama Aleta Baun. Walaupun dia anak kepala suku, ia sering tidak dianggap karena melawan. Namun ia tetap bersikeras hingga akhirnya masyarakat desa ikut turun melawan pertambangan pegunungan batu yang ada di kampungnya.

Begitupula dengan para perempuan Kartini Kendeng. Walaupun mereka hanya bertani di desa, namun ketika menyadari bahwa dampak dari pendirian pembangunan PT Semen Indonesia di wilayah mereka dapat berdampak kepada lingkungan mereka, mereka tak menunggu lagi. Mereka bergerak ke Jakarta untuk aksi di depan istana presiden dengan menyemen kaki mereka.

Memberdayakan Diri Dengan Membangun Koperasi

Aktifis lingkungan Eva Bande yang ditangkap bersama aktifis lingkungan lainnya yang turut berjuang melawan ekspansi kelapa sawit, turut membantu para perempuan yang kehidupannya terdampak karena ditinggal suamunya. Para perempuan istri dari aktifis lingkungan terpaksa harus bisa menghidupi dirinya sendiri. Mereka akhirnya mengorganisir diri untuk membangun koperasi dan usaha untuk dapat bertahan hidup setelah ditinggal suaminya.

Suaminya yang sebelumnya merupakan pemberi nafkah utama membuat perempuan harus belajar bertahan. Para istri akhirnya membangun usaha dengan membuat peluang penghasilan baru. Para perempuan di dalam koperasi membuat kurkuma sebagai penambah nafsu makan dan dijual untuk dijadikan pemasukan tambahan. Koperasi ini juga memberikan ruang aman bagi perempuan yang suaminya ditangkap, untuk dapat bercerita dan berbagi tentang keluhan mereka.

Solidaritas Persaudarian yang Kuat

Baik perempuan kartini kendeng dan perempuan-perempuan di Mollo dan Banggai, mereka bekerjasama dengan kolektif perempuan yang mereka bangun untuk melawan preman dan aparat Ketika mereka sedang aksi memprotes konsesi lahan. Mereka bergerak secara kolektif dan saling menguatkan satu sama lain.

Kolektif yang mereka bangun dilakukan secara otonom dan tanpa hirarki. Mereka hanya mengandalkan diri mereka dan sumber daya yang mereka miliki untuk dapat melakukan aksi. Tentunya dibantu oleh masyarakat yang ada namun mereka mengandalkan diri sendiri.

Perempuan Belajar Dari Alam

Salah satu wawancara yang menarik dari film ini adalah ketika Mama Aleta Baun diwawancarai oleh Febriana. Ia berkata bahwa alam lebih mengajarkan dirinya banyak hal daripada buku di sekolah. Mama Aleta berkata bahwa ia tidak mempercayai manusia yang sering berbohong, namun ia percaya pada alam. Alam merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak ada bandingannya dengan buku yang ditulis manusia. “Alam adalah tempat pengetahuan yang sangat unik dan sangat mujarab untuk harus dipelajari.” Menurutnya buku hanya bisa mengupas satu hal saja, namun jika belajar langsung dari alam ia bisa mengajarkan manusia banyak hal yang lebih luas.

Mama Aleta kemudian menggunakan filosofi-filosofi yang sangat berdekatan dengan alam untuk menguatkan masyarakat adat sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan kearifan lokal. Hubungan masyarakat Mollo berkehidupan sangat dalam dengan alam sehingga mereka rela mati untuk mempertahankan lingkungan mereka.

Tentu masih ada banyak nilai yang bisa kita petik dari film Tanah Ibu Kami dan bisa kita jadikan contoh langkah dalam melawan tirani. Film ini sangat layak untuk menjadi tontonan dari setiap kalangan, bahkan untuk siswa sekolah menengah untuk memahami mengenai perjuangan menjaga kelestarian lingkungan dalam melawan pengrusakan lingkungan yang menjadi wilayah kerja masyarakat adat.

Seperti kata Farwiza Farhan, aktifis lingkungan dari Aceh, salah satu cara kita bisa membantu perjuangan para aktifis perempuan, kamu bisa mengakses film ini di YouTube serta ikut membagikannya agar kita bisa mengamplifikasi suara-suara mereka.

+ posts

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.