Sekalipun telah sampai pada abad 21, praktik-praktik kekerasan terhadap perempuan masih saja subur dan bergentayangan. Meski penuh dengan pengekangan dan intimidasi, namun berbagai perjuangan untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan, tak surut untuk terus dinyalakan. Dalam kisah-kisah sejarah nasional maupun internasioanal, kita telah mengenal banyak pejuang perempuan yang punya visi masa depan untuk bangsanya dan dengan visinya tersebut mampu menempuh segala resiko. Di Indonesia, kita mengenal Marsinah. Seorang buruh perempuan yang marah melihat temannya dipecat semena-mena dan berani menggugat tentara yang ternyata punya kepentingan dalam meredam tuntutan buruh pada masa itu. Keberanian dan kekritisannya dianggap ancaman oleh penguasa, dan oleh karenanya ia diculik, dibunuh dan diperkosa di bawah rezim militerisme Orde Baru ketika usianya masih sangat muda (24 th).

Penyiksaan hingga pembunuhan yang ditimpakan kepada Marsinah pada tahun 1993 itu merupakan bukti pembungkaman rezim Orde Baru terhadap kritik ekonomi yang sangat eksploitatif. Tidak hanya itu, dalam rezim yang diktator, politik seksual juga digunakan untuk melanggengkan kekuasaannya. Selain pembunuhan terhadap Marsinah, kita ingat perkosaan Mei 1998 dimana lebih dari 152 perempuan Etnis Tioghoa menjadi korban kebiadaban militer. Namun, hingga kini para korban tersebut belum juga mendapat keadilan.

Dalam konteks sejarah Indonesia, kedua tragedi tersebut pada akhirnya menjadi pemantik nafas pergerakan bagi banyak perempuan dan pergerakan demokrasi untuk terus melanjutkan perjuangan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Di arena internasional, kita mengenal Mirabal bersaudara, tiga kakak beradik yang dibunuh di bawah rezim diktator Rafael Trujillo (Presiden Republik Dominika 1930-1961). Malam itu, 25 November 1960, Minerva Mirabal dan 2 saudara perempuannya Maria Teresa Mirabal dan Patria Mirabal yang sedang dalam perjalanan menuju Puerro Plata tempat suami Patria dan Minerva ditahan di penjara La Cuarenta, Jeep yang mereka tumpangi dihentikan paksa oleh antek-antek Trujillo. Saat itulah terjadi pembunuhan atas ketiganya.

Dalam film In The Times of Butterflies, dikisahkan tentang perjalanan hidup, keresahan, serta upaya-upaya keluarga Mirabal dalam menentang kediktatoran Rafael Trujillo. Dimotori oleh Minerva Mirabal (kakak sulung dari Mirabal bersaudara) yang dengan segenap tekad dan keberaniannya melakukan lompatan historis atas penundukan rezim Trujillo. Upaya penentangan itu diawali dengan niat kukuh Minerva untuk kuliah di jurusan Hukum, yang mana di tengah berkuasanya rezim diktator Republik Dominika, perempuan tidak boleh belajar Hukum. Namun, Minerva punya niat yang kuat mempelajari hukum agar dapat menjadi alat penegak keadilan bagi rakyat Republik Dominika. Selain itu, Minerva bersama suaminya, Manolo, juga aktif mengorganisir gerakan perlawanan bawah tanah, meski pada akhirnya mereka ketahuan dan dipenjara.

Segala perjuangan tersebut meski berdarah-darah hingga mengorbankan nyawa, pada akhirnya tidak bisa disebut sia-sia. Enam bulan setelah kematian Mirabal bersaudara, rakyat Republik Dominika berhasil menggulingkan kekuasaan Trujillo. Bahkan, sebagai upaya merawat ingatan, pada Konferensi Feminis Amerika Latin dan Karibia Pertama tahun 1981, tanggal kematian Mirabal bersaudara ditetapkan sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Bertahun-tahun kemudian tepatnya tahun 1999, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa memilih 25 November untuk diakui sebagai hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

Untuk terus merawat perjuangan tersebut, berbagai gerakan perempuan seluruh dunia serempak melakukan kampanye internasional 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP). Di Indonesia sendiri, kampanye 16HAKTP disambut baik oleh berbagai gerakan perempuan, organisasi masyarakat, anak muda serta asosiasi warga sipil. Selain itu, kampanye 16 hari ini juga dikemas dengan nuansa yang kreatif, seperti ekspresi artistik terhadap kekerasan gender, pemutaran film dan diskusi publikserta pawai. Tidak ketinggalan, di dunia maya pun kampanye 16HAKTP juga masif dan serentak.

Setiap tahunnya, Kampanyeinternasioanal 16HAKTP dimulaidari 25 November hingga 10 Desember. Adapun alasan pemilihan rentang waktu tersebut adalah sebagai upaya menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan pelanggaran HAM, yang mana tanggal 10 Desember merupakan hari Hak Asasi Manusia Internasional.

Meski telah ada upaya penghubungan simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dengan pelanggaran HAM, namun negara masih menutup mata dan tidak mengakui bahwa kekerasan terhadap perempuan juga merupakan bentuk pelanggaran HAM. Korban kekerasan berbasis gender hingga kini terus berjatuhan, diacuhkan dan dianggap wajar. Penderitaan fisik, trauma psikologis, hingga penyudutan secara sosial terhadap korban dibiarkan begitu saja. Sejarah kekerasan terhadap perempuan selalu berusaha ditampik sebagai sesuatu hal yang berlandaskan fakta. Bahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang senyatanya membawa harapan untuk perjuangan keadilan bagi korban, belum juga disahkan hingga kini. Pun kasus Marsinah dan perkosaan Mei 1998 juga belum ada gelar pengadilannya meski dua puluh satu tahun nyaris berlalu. Keadaannya masih sangat ironis, pelaku kekerasan terus mendapatkan toleransi dari negara, sementara suara korban selalu dicampakkan.

 

 

Referensi:

-In The Times of Butterflies

-https://www.leftvoice.org/The-Mirabal-Sisters-and-the-International-Day-for-the-Elimination-of-Violence-Against-Women

-http://www.konde.co/2016/11/tonggak-perjuangan-mirabal.html

-https://www.komnasperempuan.go.id/pages-16-hari-anti-kekerasan-terhadap-perempuan