“Malam Mingguan di Kantor ya Fin,” kata koordinator kami yang sesungguhnya ajakan itu tidak hanya tertuju padaku. Sedari siang kami berempat duduk mengitari meja persegi panjang yang berbalut taplak kuning. Di tengah meja, terdapat wadah spidol menyerupai mug dan tiga tangkai bunga krisan yang tertanam di vas kaca. Kesadaranku spontan tersentak membayangkan mengisi malam Minggu dengan kegiatan diskusi – (apakah tidak ada tawaran kegiatan lain yang lebih ringan?).

Setelah mengatakan kalimat persuatif itu, koordinator kami berusaha menenangkan gejolak yang terbaca dari raut wajah kami. Dia lekas berkata, “kita istirahat dan makan dulu, sekarang.”

Aku dan Putri segera keluar mencari tempat makan yang bisa membuat kami merasa rileks sebelum akhirnya kembali duduk mengitari meja bertaplak kuning itu lagi. Di jalan, kami tidak saling membuka obrolan. Nampaknya kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemarin Kamis di sebuah workshop, kami berkenalan dengan pisau analisa baru untuk melakukan pembacaan atas realitas ini. Pisau analisa tersebut adalah turunan dari pemikiran Michel Foucault  tentang geneology of power atau bagaimana beroperasinya sebuah kekuasaan.

Lebih spesifik lagi, di dalam membaca bagaimana beroperasinya sebuah kekuasaan ini ada lapisan-lapisan yang membentuknya. Lapisan-lapisan itu adalah visible power (kekuasaan yang tampak), hidden power (kekuasaan yang tersembunyi) dan invisible power (kekuasaan yang tidak tampak), yangmana ketiga lapis tersebut berada dalam sebuah wadah besar yang bernama Power Over. Bahwa beroperasinya sebuah kekuasaan tidak hanya dijalankan oleh aparat yang secara legal dianggap berwenang menjaga keberlangsungan kekuasaan tersebut.  Akan tetapi, aktor nonformal di luar kelas aparat legal juga berperan menopang beroperasinya sebuah kekuasaan. Di samping itu, pada lapisan struktur yang paling dalam, ada ideologi yang menjadi ruh penopang  keberlangsungan kekuasaan. Begitulah, perenungan dari filsuf Prancis yang meninggal pada tahun 1984 ini telah menghasilkan sebuah teori metafisika tentang lapisan-lapisan yang membentuk suatu kekuasaan.

Sudah terbayangkan bukan? Sepanjang siang kami menghabiskan waktu untuk mencoba mempergunakan alat analisa baru ini agar mendapatkan pengetahuan: mengapa ada gerakan-gerakan yang gencar melakukan propaganda untuk membenci keberadaan feminisme?

Namun sepanjang siang ini kami masih belum selesai melakukan analisa secara utuh yang menyentuh serangakian dari tiga unsur Power Over. Proses analisa yang panjang memancing kami mempergunakan jalur cepat. Tetapi ketika kami mempergunakan jalur cepat, koordinator kami tidak pernah absen pula dalam mengingatkan untuk keluar dari stigmatisasi.  “Iya, tapi kenapa? Kita lepaskan dulu teori-teori objektifikasi[1], domestifikasi[2], juga misogini[3]. Itu adalah carapandang kita yang mungkin saja menghakimi mereka,” katanya.

Hmm, melepaskan teori-teori yang sudah lama berdiam dalam kesadaran kita, rasanya hampir mirip dengan melepaskan ego – (agak sulit). Jadilah sepanjang siang kami hanya mencari peristiwa-peristiwa yang mengartikulasikan praktik melonak keberadaan feminisme yang terdokumentasikan di dunia internet dan di dunia ingatan kolektif kami.

Bunyi kalkson mobil membuatku kesal. Tapi segera kuabaikan. Aku tidak sadar bunyi itu tertuju untukku. “Kau tak bisa jalan dengan benarkah Fin?” kata Putri dengan dialek Kalimantannya sambil mengandengku menuju tepi jalan. Begitu memang cara komunikasinya denganku, judes. Tapi hatinya baik.

 

Alasan Feminisme Dibenci

Aku tidak tahu memunculkan kata dibenci disini serampangan dan terlalu terburu-buru atau tidak. Namun jika pun mungkin demikian, aku telah mempunyai data-data nyata yang dapat menyusun argumentasi kemunculan kata itu. Proses analisa yang panjang, juga yang terlebih dahulu kami diharuskan untuk netral dan terbebas dari kesadaran-kesadaran kami sebelumnya, kurasa adalah metode yang sangat kuat untuk dapat membaca kenyataan dengan menyelaminya terlebih dahulu, bukan menghakiminya di awal.

Pada salah satu situs yang kami analisa, kami menemukan poster di dalamnya terdapat gambar bibir yang terluka berdarah-darah, di samping bibir tersebut ada sebatang wadah lipstik berisi tanaman kaktus. Di dalam kemasan wadah lipstik berisi sebatang kaktus tersebut terdapat tulisan feminisme. Tentu saja yang menciptakan poster itu bukan sembarang orang, penciptanya paham betul tentang ilmu semiotik.

Dari data-data yang telah kami kumpulkan, kami melakukan inventarisir atas kata kunci yang kami anggap penting dalam tumpukan data-data itu. Adapun yang berhasil kami inventarisir yangmana menggandung alasan kenapa feminisme dibenci adalah sebagai berikut:

  1. Feminisme dianggap produk import Barat
    Feminisme digeneralisir sebagai produk keilmuan atau carapandang, yangmana carapandang itu adalah hasil import dari  Barat.  Sehingga oleh kelompok antifeminisme, feminisme  dianggap tidak patut untuk diikuti atau diaplikasikan.
  1. Feminisme dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam
    Visi feminisme tentang pembebasan terhadap domestifikasi dan objektifikasi kaum perempuan oleh kelomok antifeminisme dianggap sebagai hal yang menyalahi kodrat dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Padahal di dalam Islam sendiri salah satu nilai yang diperjuangkan adalah pembebasan dari perbudakan kepada perempuan.
  1. Adanya konsep: Tubuhku Bukan Milikku, melainkan Milik Allah
    Konsep Tubuhku Bukan Milikku melainkan Milik Allah adalah konsep yang sangat bertentangan dengan  konsep Tubuhku Otoritasku dalam feminisme.
  1. Feminisme dianggap merusak tatanan keluarga
    Dalam feminisme perempuan memiliki hak untuk berpendidikan dan bekerja. Sementara dalam tatanan keluarga, menurut kelompok antifeminsime, seorang perempuan seharusnya menurut kepada suami dan mendidik anak. Bekerja dan berpendidikan adalah hal yang sebaiknya tidak menjadi kegiatan utama bagi perempuan.
  1. Feminisme dianggap merusak kesucian
    Feminisme yang masif menyuarakan hak pemulihan bagi korban perkosaan dianggap merusak standar moral tentang kesucian. Dimana feminisme sendiri menolak pengukuran standar kesucian seorang perempuan, apalagi jika hanya dilihat dari peristiwa seksual.  Adanya pengukuran standar moralitas kesucian bagi perempuan merupakan cara menghegemoni dan meproduksi ketakutan-ketakutan pada jiwa perempuan.
  1. Feminisme identik dengan komunisme yang tidak bertuhan dan homoseksual
    Sesungguhnya kami terkejut ketika menemukan frasa tersebut dalam beberapa teks yang diproduksi oleh kelompok antifeminisme. Lama kami berpikir dimanakah korelasi atau setidaknya irisan yang mempertautkan antara feminisme dengan komunisme dengan ketidakbertuhanan dan dengan homoseksual. Tentu saja frasa tersebut adalah pernyataan propagandis yang sangat memiliki nilai jual. Sejak tahun 1965, Partai Komunis Indonesia yang mempunyai massa riil dari sektor rakyat lapisan bawah dibumihanguskan oleh Orde Baru, ideologi komunis dianggap sebagai hantu dan terus disuarakan dengan citra-citra negatif, nampaknya masyarakat Indonesia belum bisa moveon atas sentimen komunisme. Dalam konteks internasional, pada tahun 1991 bertepatan dengan bubarnya Uni Soviet, ideologi komunisme juga terus dipukul mundur dengan berbagai citra negatif. Sementara propaganda terhadap homoseksual sebagai penyakit juga terus dikumandangkan oleh polisi moral. Feminisme yang identik dengan komunisme dengan ketidakbetuhanan dan dengan homoseksual tentu adalah penyataan yang tidak memiliki akar dan merawak rambang.

Konstruksi Perempuan Menurut Kelompok AntiFeminis

Malam itu, masih dengan metode kajian teks dengan menetralkan baju-baju carapandang yang terlanjur kami miliki, kami pun menemukan dua frasa yang mengartikulasikan bagaimana konstruksi perempuan menurut kelompok antifeminisme. Kontruksi sosial adalah hal yang sangat wajar dalam kehidupan sosial. Tiap-tiap nilai akan melahirkan konstruksinya masing-masing. Konstruksi sosial adalah sebuah instrumen untuk mematerialkan suatu nilai atau kepercayaan.

Frasa yang kami temukan dengan metode kajian teks tersebut yaitu, Ibu adalah pendidik di dalam keluarga. Seorang perempuan dianggap memiliki peran sosial yang utuh jika telah menjadi ibu, sehingga tanggungjawab utama perempuan adalah mendidik anak-anaknya. Jika di dalam keluarga terjadi goncangan atau musibah bahkan hingga brokenhome, kesalahan ini bersumber dari perempuan yangmana sebagai pendidik bertanggungjawab penuh menjaga stabilitas kebaikan-kebaikan dalam keluarga.

Selain itu kami juga menemukan frasa yang berbunyi Ibu adalah penjaga moral bangsa. Hal yang lebih luas atau implikasi dari pendidik di dalam ranah keluarga adalah menuju wilayah kebangsaan. Tolak ukur kebaikan moral sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan penyeragaman  moralitas atau ahlak, yangmana perempuan menjadi garda depan dalam menjaga moral baik bangsa-nya.


Alasan Kelompok AntiFeminis Menolak Adanya Konsep Perkosaan dalam Pernikahan

Konsep perkosaan dalam pernikahan atau marital rape tidak diakui keberadaanya oleh kelompok antifeminisme. Hal ini dilatarbelakangi oleh tiga argumentasi, yaitu:

  1. Konsep perkosaan dalam pernikahan mengusung nilai-nilai liberal sehingga pro zina dan pro LGBT
    Adanya konsep perkosaan dalam pernikahan menurut kelompok antifeminis adalah manifestasi dari nilai-nilai liberal yang juga termasuk produk import Barat – tidak sesuai dengan nilai Islam dan hal ini identik dengan pro zina dan pro LGBT. Dengan anggapan, jika di dalam pernikahan yang suci ada perkosaan, maka kegiatan seks tanpa pernikahan (yang dengan konsensus bersama) justru didukung. Padahal menurut teks agama, kegiatan seks di luar pernikahan adalah kegiatan asusila berat. Masih merujuk teks agama, dikisahkan kaum Luth yang melakukan praktik homoseks adalah kaum yang dilaknat Tuhan.
  1. Pemaksaan hubungan seksual dalam ikatan pernikahan adalah hal yang suci dan tidak tergugat
    Menurut kelompok antifeminis konsep marital rape adalah konsep yang salah karena hubungan pernikahan adalah hubungan yang suci. Jika seorang perempuan menolak atau menggugat suami dalam ajakan berkegiatan seksual, perempuan tersebut dilabeli sebagai perempuan yang tidak baik karena menolak ajakan berpahala.
  1. Ketika terjadi kekerasan, perempuan harus melihat dirinya, “apa yang kurang”
    Tanggungjawab perempuan sebagai pendidik anak dan penjaga moral bangsa adalah tanggunngjawab yang berat. Sebagai turunannya akan ada standarisasi yang ketat yang mendisiplinkan perempuan dengan pelekatan nilai “baik-baik”.  Pelekatan nilai “baik-baik” ini kemudian mengkonstruk perempuan untuk menjadi inferior dan menyalahkan diri sendiri apabila ada sebuah peristiwa kekerasan.

Dengan memasifkan propaganda menolak keberadaan perkosaan dalam pernikahan, hal ini akan terus melanggengkan ketakutan dan penyiksaan terhadap perempuan. Di jalanan, tempat ibadah bahkan ruang akademik sekalipun, kami masih sering mendengar candaan yang sebenarnya sangat mengobjekan perempuan.

Para laki-laki sering mengatakan, “Semua perempuan itu ingin seks tetapi hanya sok malu. Maka dipaksa saja, pasti dia mau.” Kalimat kasar itu lalu diikuti oleh gelak tawa kaum laki-laki lainnya.  Artikulasi dari kalimat yang begitu tidak adil tersebut juga dipropagandakan lewat layar TV dan media-media lainya.  Budaya perkosaan yang sudah sangat mengakar ini memang sebuah belenggu gelap bagi perempuan, bahkan untuk keluar dari hegemoni perkosaan itu sendiri. []

 

Catatan kaki:
Merawak rambang:
Menurut KBBI memiliki persamaan dengan kata membabi buta, yaitu melakukan sesuatu tanpa memperhitungkan lebih dahulu tujuan atau sarannya; mengawur

Objektifikasi :
Memperlakukan seseorang layaknya barang tanpa mempertimbangkan martabatnya.  Menurut filsuf Martha Nussbaum, seorang mengalami objektifikasi jika mereka diperlakukan seperti alat untuk keperluan orang lain.

Domestifikasi :
Merumahkan perempuan sehingga ruang geraknya dibatasi di tiga wilayah saja, yaitu sumur, dapur dan kasur

Misogini :
Kebencian atau tidak suka terhadap wanita atau anak perempuan. Misogini dapat diwujudkan dalam berbagai cara, termasuk diskrimunasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan.

Referensi:

  • Hasil pembacaan situasi kampus dan situasi nasional
  • https://www.abc.net.au/news/2019-05-25/why-some-women-are-campaigning-against-equality-in-indonesia/11114288
  • https://www.thejakartapost.com/academia/2019/06/13/uninstall-inequality-the-other-option.html
  • https://www.whimn.com.au/talk/think/uninstall-feminism-is-the-dangerous-hashtag-behind-a-growing-global-movement/news-story/f3b226c7efa77df6761d9ebff621efad

Credit Picture: https://mobile.abc.net.au/news/2017-10-06/ws-mural/9022896


#Tulisan ini merupakan sebuah upaya dokumentasi atas diskusi panjang yang menyita Malam Minggu kami. Adapun terselenggaranya diskusi tersebut adalah dalam rangka menggali kekuatan feminisme pada kalangan muda serta untuk melakukan pembacaan counter narasi atas propaganda antifeminisme. Subjek yang menyumbangkan pemikirannya dalam diskusi ini yaitu Ika sebagai koordinator umum kami adalah Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika, Tyas adalah koordinar program Kepemimpinan Perempuan Muda Kampus, Aku (Afin) adalah Staff Pengelola Website dan Publikasi program Kepemimpinan Perempuan Muda Kampus dan Putri adalah Koordinator  Embrio Perempuan Merdeka (EMPEKA) yaitu sebuah organisasi perempuan muda yang berada di Samarinda Kalimantan Timur. Saat ini berjejaring dengan Perempuan Mahardhika dalam program Kepemimpinan Perempuan Muda Kampus (We Lead).