Nancy Fraser adalah salah satu pemikir teori kritis dan pemikir feminis paling terkemuka saat ini. Dia adalah Profesor Filsafat dan Politik  di New School for Social Research New York. Dari sejumlah publikasi yang banyak dibaca oleh publik, salah satunya berjudul  “Redistribution or Recognition? A Political-Philosophical Exchange (2003)”. Sebuah debat dengan Axel Honneth. Dia mengembangkan konsep teoretis tentang keadilan dan ketidakadilan, dengan alasan bahwa keadilan dapat dikonseptualisasikan dalam dua cara: keadilan distributif dan keadilan pengakuan. Dia mengklaim bahwa redistribusi dan pengakuan adalah penting untuk memerangi ketidakadilan saat ini. Dia juga telah menerbitkan sejumlah besar buku dan artikel tentang isu-isu feminisme dan feminis, baik sebagai sarjana maupun sebagai aktivis, slah satunya adalah “Fortunes of Feminism: From State-Managed Capitalism to Neoliberal Crisis  (2013).”. Kali ini dia diwawancarai oleh Christine Schickert: direktur administrasi Kelompok Riset untuk Masyarakat Pasca Pertumbuhan di Departemen Sosiologi Universitas Jena, Jerman dan asisten editor Global Dialogue.

CS: Sudah hampir sepuluh tahun sejak artikel Anda “Feminisme, Kapitalisme dan Kelicikan Sejarah” diterbitkan, di dalamnya Anda pada dasarnya berpendapat bahwa feminisme arus utama atau liberal telah dikooptasi oleh kapitalisme untuk tujuannya sendiri. Bisakah Anda menguraikan argumen Anda di sini?

NF: Saya sedang menulis makalah itu di saat yang sangat spesifik, tepat ketika krisis keuangan dunia sedang berlangsung dan Barack Obama, berbicara tentang semua harapan dan perubahan ketika dia telah terpilih menjadi presiden. Saat itu adalah periode dimana semua orang mengakui bahwa kami berada pada momen yang sangat menentukan dan menakutkan, dan ada banyak harapan jika sesuatu yang berbeda akan terjadi. Ada sesuatu tentang momen tersebut yang membuat saya tiba-tiba bisa memikirkan tentang sejarah momen-momen ini dan sejarah feminisme secara keseluruhan. Untuk waktu yang lama, saya tidak senang dengan arah yang diambil oleh feminisme liberal atau arus utama, yang telah saya coba tulis sebelumnya dengan berbicara tentang terlalu fokus pada pengakuan dan kurang perhatian pada distribusi. Akan tetapi hal ini memberi saya  pandangan yang lebih jelas tentang momen krisis yang tengah terjadi.

Perasaan saya adalah: bahwa telah terjadi perubahan besar dalam sifat masyarakat kapitalis yang berjalan bersamaan dan paralel dengan perkembangan feminisme. Ketika gelombang kedua feminisme meletus pada akhir 1960-an dan awal 70-an, kami benar-benar berada di puncak, dan kami berpikir bahwa kami masih beroperasi dalam rezim kapitalis yang aman, sosial demokrat, atau dikelola oleh negara. Namun, kami juga berpikir bahwa nasib yang dibawa oleh rezim ini kurang aman dan  sebanarnya kita dapat beralih dari sana ke dunia egaliter dan demokratis yang lebih radikal dimana feminisme akan menjadi pemain utama.

Namun yang terjadi adalah krisis demokrasi sosial, yang baru saja akan terungkap, dan kebangkitan neoliberalisme. Ini adalah bentuk kapitalisme yang sama sekali baru, dan kaum feminis -(bukan hanya kaum feminis tetapi banyak aktor gerakan sosial yang progresif)- sangat lambat untuk menyadari hal ini; sederhananya, kami masih melanjutkan agenda yang berfokus pada pengakuan  tanpa memahami bagaimana ekonomi politik telah berubah. Bukan lagi kita lupa tentang redistribusi, tetapi tanpa disadari – atau setidaknya banyak orang tidak menyadarinya – kita sebenarnya telah menyumbangkan sesuatu yang positif dan esensial untuk neoliberalisme. Kami telah memberinya semacam karisma dan legitimasi yang memungkinkannya untuk menggunakan karisma pembebas kami. Pembebasan sebagai semacam alat legitimasi atau alibi untuk rezim ekonomi politik baru regresif yang sedang diperkenalkan.

Itulah argumennya, karena kami berada dalam masa krisis pada 2008-2009. Saya berpikir bahwa saat ini adalah  waktu dimana mungkin seperti yang saya katakan di akhir esai – untuk berpikir besar, untuk berpikir di luar kotak, dan untuk memperkenalkan jenis feminisme baru melalui perubahan atau koreksi arah, dimana kita bisa menjadi bagian dari proyek anti-neoliberal yang nyata.

CS: Saya dapat membayangkan bahwa banyak wanita yang diidentifikasi sebagai aktivis atau cendekiawan feminis melihat pekerjaan mereka untuk tujuan feminis dipertanyakan dan merespons secara defensif terhadap analisis Anda.

NF: Saya berharap ketika saya menerbitkan esai, saya akan mendapatkan banyak tanggapan. Kenyataannya saya benar-benar mendapatkan jauh lebih sedikit daripada yang saya harapkan. Setidaknya dari kalangan lingkaran saya sendiri: akademisi feminis. Bahkan, jika orang tidak sepenuhnya setuju dengan saya, mereka berpikir  saya sedang tertarik pada sesuatu, dan  sesuatu yang mereka maksudkan merupakan sebuah pernyataan bahwa feminis itu salah. Ada perasaan hebat tentang dunia yang kami pikir akan kami ciptakan ternyata  bukanlah dunia yang sebenarnya kami tinggali saat ini. Ada lebih banyak orang daripada yang saya harapkan yang mau memikirkan tesis ini.

Saya merasa hal tersebut bukan tuduhan atau pertanyaan tentang kesalahan (feminisme), melainkan kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana suatu bentuk hegemoni progresif dan neoliberal dapat membangun dirinya sendiri dan memenangkan pertempuran untuk akal sehat saat ini. Saya pikir kita perlu memahami peran apa yang mungkin kita mainkan tanpa disadari, sehingga kita bisa melakukan yang lebih baik dan membuat koreksi arah.

Tidak ada feminis kulit putih yang suka mendengarkan wanita kulit hitam tanpa bermaksud untuk mereplikasi banyak asumsi yang baik terkait dengan supremasi keistimewaan kulit putih.  Atau sama sekali tidak peka terhadap situasi yang berbeda dari wanita kulit berwarna. Tetapi, kami harus mendengarkannya dan kami harus melepaskan hak istimewa kulit putih dan saya pikir hal yang sama pun berlaku. Reaksi pertama memang seringkali bersifat defensif, tetapi Anda tidak bisa hanya tetap dalam keadaan itu.

CS: Tapi saya berasumsi feminis liberal tidak melihat diri mereka sebagai agenda neoliberal tetapi berjuang untuk kesetaraan jender yang lebih besar?

NF: Pertanyaannya disini adalah: apa yang kita maksud dengan kesetaraan? Kesetaraan adalah salah satu konsep yang pada dasarnya diperebutkan dengan interpretasi yang bersaing. Interpretasi liberal adalah apa yang saya sebut interpretasi meritokratis. Ini adalah gagasan bahwa pada akhirnya wanita adalah individu yang harus seperti halnya pria, memiliki kesempatan dan kesempatan untuk melangkah sejauh bakat mereka akan membawanya sebagai individu. Kesetaraan disini berarti berusaha membongkar hambatan yang menyebabkan diskriminasi. Masalah ketidaksetaraan adalah salah satu diskriminasi dan dengan menghilangkan hambatan diskriminatif, perempuan yang berbakat dan individu ini bisa setinggi laki-laki.

Hal pertama yang ingin saya katakan adalah bahwa hal tersebut merupakan hegemoni ideal dari kelas khusus. Yang benar-benar berarti bahwa mereka ingin menjadi setara dengan orang-orang kulit putih elit dari kelas mereka sendiri. Apa arti feminisme bagi saya adalah gagasan kesetaraan yang lebih kuat dan radikal yang sebenarnya bukan tentang mendiversifikasi hierarki seksual tetapi menghapusnya – atau menguranginya dalam hal apa pun. Jadi, gagasan tentang persamaan meritokratis ini bahkan tidak akan saya sebut kesetaraan. Meritokrasi liberal sebagai interpretasi kesetaraan telah membawa beberapa keuntungan nyata tetapi hanya untuk lapisan perempuan yang sangat tipis. Sebagian besar wanita tidak memecahkan langit-langit kaca; mereka terjebak di ruang bawah tanah, mereka membersihkan dan menyapu pecahan kaca. Saya bagian dari upaya mengembangkan jenis feminisme alternatif untuk feminisme meritokratis yang liberal ini.

CS: Sejak pemilihan sejumlah pemimpin sayap kanan di Amerika Serikat dan Eropa, telah terjadi perdebatan seputar pertanyaan apakah seharusnya fokus pada satu sisi saja yaitu  “identitas”,  dalam gerakan sosial dengan biaya mengatasi ketidaksetaraan ekonomi yang terletak pada akar kesuksesan sayap kanan. Apa arti debat ini bagi gerakan feminis yang di permukaan memiliki satu faktor penggerak identitas kita bersama sebagai perempuan?

NF: Saya pikir kita bisa mengatasinya di tingkat yang berbeda. Pada tingkat konseptual, saya selalu berpendapat bahwa gagasan beberapa gerakan yang merupakan gerakan identitas dan beberapa gerakan yang merupakan gerakan kelas adalah kesalahpahaman. Pergerakan berbasis kelas memiliki dua aspek. Mereka memiliki aspek struktural, yang saya coba berteori dalam hal distribusi, tetapi ada cara lain untuk menjelaskannya. Mereka selalu memiliki aspek identitas dalam arti bahwa semua kelas berjuang, bahkan ketika mereka tidak secara eksplisit berfokus pada hal ini, menyampaikan gambaran tentang perjuangan siapa itu – untuk mendapatkan atau kehilangan, dll. Saya tidak berpikir feminisme berbeda; subordinasi perempuan dalam masyarakat kapitalis secara struktural sama mendasarnya dengan eksploitasi kelas. Jadi, saya merasa kesal ketika orang mengatakan bahwa feminisme adalah gerakan identitas dan yang lainnya adalah gerakan kelas. Saya pikir klaim kami sedalam struktural dan berakar, seperti yang biasa mereka katakan (dalam kontradiksi utama). Pada saat yang sama, semua gerakan memiliki basis identitas.

Basis identitas dapat menyesatkan Anda. Sekarang ada kata kunci, intersectionality. Saya memiliki beberapa kritik terhadap bahasa itu, tetapi poin utamanya adalah benar. Poin utamanya adalah tidak semua wanita berada di kapal yang sama, tidak semua orang kelas pekerja berada di kapal yang sama, dan tidak semua orang kulit berwarna berada di kapal yang sama. Ada asimetri struktural yang saling memotongnya, yaitu asimetri kekuasaan, kelebihan dan kekurangan, dll.  Feminisme yang mengatakan “kita tidak akan melihat masalah-masalah itu, kita hanya akan berbicara tentang perempuan” akan berakhir berbicara hanya untuk lapisan khusus perempuan. Itulah yang saya pikir telah dilakukan oleh feminisme liberal dan meritokratis. Feminisme harus sedikit banyak peka terhadap kelas, ras, dan semua sumbu penindasan utama lainnya dalam masyarakat kapitalis.

CS: Anda sendiri, bersama dengan sejumlah pemikir feminis terkemuka lainnya, baru-baru ini menjawab pertanyaan tersebut untuk menciptakan gerakan feminis yang lebih inklusif dan mengembangkan gagasan  “feminisme untuk 99 persen.” Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang inisiatif ini.

NF: Ini adalah sejenis bahasa populis yang kami pinjam dari Occupy. Anda mungkin mengatakan bahwa dari sudut pandang sosiologis yang ketat itu tidak sepenuhnya ketat. Akan tetapi, ia memiliki kekuatan mobilisasi yang luar biasa dan menyampaikan secara instan bahwa ini bukan feminisme Christine Lagarde dan Hillary Rodham Clinton. Ini hampir merupakan cara “perkelahian” untuk menggambarkan diri Anda sebagai lawan feminisme. Ini justru merupakan upaya koreksi wacana. Apa yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir, seperti yang saya diagnosa dalam esai itu, adalah bahwa dalam arti feminisme – (atau penting, arus feminisme dominan) – entah bagaimana tersedot ke dalam semacam aliansi atau seperti yang disebut Hester Eisenstein, “penghubung berbahaya”.  Dengan kekuatan neoliberal semacam ini dan melayaninya sebagai alibi bagi mereka. Karena itu, antitesis dari kekuatan neoliberal yang mewakili 1% adalah feminisme yang mewakili 99%. Ini merupakan strategi retoris yang sangat sederhana. Hal yang menarik tentangnya dan hanya beberapa dari kita yang memimpikannya agar hal tersebut mendapat daya tarik, yang bagi saya menunjukkan bahwa ada sesuatu disana menunggu sesuatu yang seperti  ini datang. Ada kebutuhan nyata yang dirasakan untuk itu.

Feminisme untuk 99% ini benar-benar prihatin dengan situasi mayoritas wanita yang melakukan bagian terbesar dari reproduksi sosial dan pekerjaan upahan, juga yang kondisi kehidupannya memburuk di bawah rezim kapitalisme neoliberal dan finansial. Bentuk kapitalisme ini membutuhkan lebih banyak jam kerja yang dibayar per rumah tangga daripada jenis kapitalisme sebelumnya. Kapitalisme saat ini menyerang kesejahteraan sosial dan semua jenis rezim perlindungan sosial di tingkat nasional, dan menggunakan utang sebagai senjata. Wanita berada di garis depan serangan terhadap reproduksi sosial.  Berpijak dari situ,  99% feminis ini harus memusatkan perbaikan pada aspek-aspek yaang saya sebut tadi. Kami mencoba memberi nama sistem, seperti yang biasa kami katakan di SDS (Students for a Democratic Society), dan sementara feminisme liberal adalah tentang mendapatkan akses ke sistem, kami berbicara tentang cara-cara dimana sistem membuat hidup kita tidak layak.

CS: Tapi 53% wanita kulit putih di Amerika Serikat memilih Donald Trump pada tahun 2016, seorang kandidat yang tidak hanya seksis tetapi juga tidak peduli dengan kesetaraan gender apa pun. Bisakah ide feminisme untuk 99% mencapai wanita-wanita ini?

NF: Tidak semuanya, tapi saya pikir hal ini merupakan suatu kesempatan yang baik dari mereka. Tentu saja, ada yang seperti pria yang memilih Trump; mereka adalah kaum Republikan yang membenci Hillary Clinton dan tidak akan memilihnya, orang-orang bisnis, mereka yang menginginkan pasar bebas, dll. Banyak dari mereka adalah para tersangka yang memilih Partai Republik, tetapi tidak semua. Beberapa dari mereka adalah wanita kelas pekerja dari daerah deindustrialisasi yang telah benar-benar hancur oleh pergeseran manufaktur di luar Amerika Serikat dan beberapa dari mereka adalah wanita Selatan. Ada industrialisasi baru di selatan, seringkali tidak berserikat, yang telah hancur dalam beberapa tahun terakhir juga. Mereka telah musnah juga. Ada juga perempuan pedesaan, perempuan kota kecil dimana penganggurannya mengerikan, kecanduan opioid merajalela, dan seterusnya dan seterusnya. Intinya adalah bahwa ini bukanlah orang-orang yang akan mendapat manfaat dari lean-in feminism atau dari versi neoliberalisme progresif.

Belum ada terlalu banyak studi etnografi yang serius, teliti, mengapa mereka memilih seperti itu, tetapi akan ada. Dalam beberapa wawancara yang saya lihat – dan ini tidak sistematis – Anda bisa merasakan apa yang orang rasakan. Ketika mereka mendengar rekaman Hollywood Access (yang sebelum pemilihan, ketika itu Trump membual tentang meraih wanita “oleh vagina”), mereka mengatakan hal-hal seperti itu sehingga membuat mereka merasa benar-benar buruk, mereka tidak suka, itu tidak sopan, dan mereka tidak ingin dia berbicara seperti itu, tetapi mengingat yang lain, dia masih merupakan usaha terbaik mereka. Selain itu, saya pikir ada juga orang yang mungkin tidak suka cara dia berbicara tentang orang-orang Meksiko atau Muslim, tetapi bahkan jika itu mengerikan, tentang dirinya yang tidak sopan ini, di sisi lain dia tetap berbicara tentang  bagaimana membuat hal-hal menjadi lebih baik bagi mereka.

Tentu saja, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua pendukung Trump adalah rasis. Ada pemilih Trump yang benar-benar rasis, tetapi mereka yang tidak dapat kami jangkau dan saya tidak peduli tentang mereka. Saya khawatir tentang yang saya pikir ada sebagian besar dari mereka – yang bisa dihubungi oleh kiri. Kita tahu bahwa ada 8,5 juta orang Amerika yang memilih Trump pada 2016 yang memilih Obama pada 2012.

Poin yang paling penting adalah bahwa pada saat pemilihan November tiba, satu-satunya pilihan lain adalah Hillary Clinton, dan itu berarti neoliberalisme progresif. Bernie Sanders telah mewakili sesuatu yang lain, tetapi dia tidak ada dalam permainan pada saat itu.

CS: Jadi bagaimana menurut Anda 8,5 juta orang Amerika ini dapat dijangkau oleh kaum kiri?

NF: Politik yang saya dukung, dimana feminisme untuk 99% adalah satu bagian untuk mencoba menghidupkan kembali sesuatu seperti opsi Sanders (saya hanya menggunakan namanya sebagai steno). Ini melibatkan mengambil setiap gerakan sosial progresif, mencoba untuk membaginya antara mereka yang untuk 99% dan mereka yang untuk 1% – tentu saja kosep saya ini kasar, tetapi idenya harus jelas – dan menyatukan mereka semua. Apa yang Anda miliki dengan Sanders adalah gagasan bahwa Anda dapat menggabungkan banyak masalah kelas pekerja dan keluarga pekerja, roti dan mentega: antara lain, kesehatan untuk semua, membubarkan bank, dan biaya kuliah gratis .

Ketika saya mengatakan kelas pekerja, saya tidak hanya bermaksud orang kulit putih. Di Amerika Serikat, kelas pekerja memiliki banyak orang kulit berwarna dan wanita di dalamnya, dan mereka semakin menganggap diri mereka sebagai kelas pekerja. Jadi, ambil isu roti dan mentega yang menguntungkan 99% ini dan gabungkan dengan hal-hal seperti memperbarui sistem peradilan pidana, yang merupakan masalah mendesak bagi orang kulit berwarna, dengan kebebasan reproduksi, yang merupakan masalah mendesak bagi wanita, dan dengan isu-isu lain yang sama-sama struktural dan material yang – meskipun tidak seharusnya – dianggap sebagai masalah identitas. Jadi saya pikir feminisme untuk 99% adalah contoh untuk mengikuti gerakan sosial lainnya. Jadi mari kita miliki, misalnya, lingkungan hidup untuk 99%. Kami memiliki arus ini, tetapi mari kita benar-benar memanggil mereka dan menyatukannya dengan cara yang jelas.

 

Direct all correspondence to Nancy Fraser <frasern@earthlink.net>

Fraser NancySchickert Christine GermanyUnited StatesVolume 8,

Diterjemahkan bebas oleh : Afin  Fariha
Dari   : http://globaldialogue.isa-sociology.org/feminism-in-neoliberal-times-an-interview-with-nancy-fraser/

Credit pict: https://thebaffler.com/war-of-nerves/non-compete