Talkshow “Tangguh Bersama Perempuan” di RRI Banjarmasin Segmen Pro 2 Kampus bersama Narasi Perempuan

Dalam kehidupan sosial, posisi perempuan masih dianggap sebagai makhluk kedua setelah laki-laki. Hal ini terjadi karena ada kondisi budaya yang membuat perempuan seolah tidak memiliki  “kehadiran”,  sebab yang memberi pemaknaan atas kehadiran perempuan dalam tatanan sosial adalah laki-laki. Sebagaimana dicontohkan oleh Anna Desliani Aktivis Narasi Perempuan dalam Talkshow di RRI Banjarmasin  segmen Pro 2 Kampus pada Sabtu (14/09), Anna mengatakan: “Budaya sosial yang telah berjalan ratusan tahun lalu, mendorong perempuan untuk hanya menjadi Ibu Rumah Tangga atau pekerja reproduktif, sehingga memunculkan kondisi akan ruang gerak perempuan yang lebih sempit dari pada laki-laki. Padahal, perempuan juga memiliki ambisi dan mimpi yang ingin dicapai, sehingga banyak perempuan yang harus merepresif mimpinya itu untuk mengabdikan diri kepada suami.”

Menurut Anna, kondisi tersebut memunculkan satu permasalahan yaitu: perempuan yang berkonstribusi atau sukses dalam dunia kerja produktif (perempuan karir) akan dilabeli citra negatif dalam masyarakat. Pelabelan citra negatif itu disebabkan oleh kuatnya narasi yang mengkonstruk bahwa perempuan ideal adalah perempuan yang menikah dalam usia muda dan memiliki keahlian mengurus kerja rumah tangga. “Perempuan yang sudah dianggap berusia matang dan tidak lekas menikah akan mencapat cibiran, sementara setelah menikah perempuan akan mengkonsentrasikan diri untuk mengurus rumah tangga. Apabila menjadi wanita karir, dia akan dianggap mementingkan diri sendiri, tidak peduli pada keluarga dan lain sebagainya.”

Anna menambahkan, “Sementara pada kaum laki-laki, pelabelan itu akan terjadi sebaliknya, yaitu laki-laki yang sukses pada dunia karir akan dilekati citra positif dalam masyarakat.”

Selain permasalahan yang ditimbulkan oleh budaya sosial terhadap pembatasan ruang gerak perempuan, dalam talkshow yang berlangsung  satu jam yaitu sejak pukul 17.00-18.00 WITA, Anna juga mengungkap kondisi lain yang membuat perempuan terasing dalam memaknai kediriannya secara mandiri. “Media dan juga agent kapital, sangat kencang mempromosikan kecantikan perempuan.  Power seorang perempuan dilihat dari kecantikannya. Kelebihan perempuan selain di wilayah kecantikan dan kelihaian dalam kerja domestik, sering kali tidak dianggap sebagai kelebihan bahkan harus dibatasi. Semisal perempuan yang pandai, ketika usianya sudah matang akan lebih didorong untuk menikah daripada melanjutkan pendidikan dan perempuan yang sukses dalam karir akan susah mendapartkan suami.”

Pembatasan ruang gerak dan eksistensi perempuan memunculkan sebuah fenomena mengerikan, yaitu perempuan akan bersaing membangun diri sesuai konstruksi dalam pandangan laki-laki terhadap dirinya. Kelanjutan dari fenomena tersebut, menurut Anna, mengutip dari analisa Najwa Sihab terkait queen syndrom: 58% perundung di tempat kerja adalah perempuan dan hampir 90% dari mereka memilih perempuan lainnya sebagai korban. Penelitian ini berkolerasi pada minimnya dukungan antar perempuan. Mengomentari fenomena tersebut, Anna menyampaikan, “Penting bagi kita, sesama perempuan untuk saling mendukung dan menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Kita sesama perempuan mesti saling bergandengan tangan, bantu-membantu, dan yang tidak kalah penting, saling memahami kondisi dan situasi yang menjadi momok bersama bagi permasalahan perempuan selama ini.”

Talkshow “Tangguh Bersama Perempuan” RRI PRO 2 Kampus Banjarmasin bersama Narasi Perempuan

 

Senada dengan Anna, Rizki Anggarini Santika Febrian (Kiky) Aktivis Narasi Perempuan yang juga merupakan narasumber talkshow Tangguh Bersama Perempuan yang bekerjasama dengan LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin, menyatakan setuju jika perempuan memang harus membangun solidaritas  demi  perubahan sosial yang lebih baik, yaitu lebih setara antara kaum laki-laki maupun perempuan.

Sementara itu mengenai penjabaran tangguh bersama perempuan, menurut Kiki, perempuan adalah representasi dari definisi tangguh itu sendiri. Hal ini didasari oleh landasan argumentasi: bahkan untuk menentukan pilihan hidupnya seorang perempuan dihadapkan pada situasi yang sulit,  karena perempuan sering dianggap tidak layak atau tidak mampu mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. “Lingkungan dan masyarakat sering mengatasnamakan demi kebaikan perempuan ketika memberi nasihat kepada perempuan tetang langkah yang seharusnya diambil. Padahal sebenarnya di dalam situ tersimpan upaya dominasi budaya patriarki,”paparnya.

“Topik talkshow ini  penting dibahas untuk menyadarkan perempuan akan posisinya di masyarakat. Perempuan itu sebenarnya  punya kekuatan yang dia sendiri tidak  sadari karena terlalu lama ditekan oleh lingkungan. Oleh karenanya  perempuan akan lebih menjadi tangguh dalam masyarakat  jika bersatu dan membagun solidaritas,” Pungkas Kiki.

 

# Narasi Perempuan adalah komunitas perempuan muda kampus yang anggotanya berasal dari Universitas Lambung Mangkurat dan UIN Antasari Banjarmasin.  Saat ini berjejaring dengan Perempuan Mahardhika dalam program Kepemimpinan Perempuan Muda Kampus (We Lead).

 

credit picture: https://www.redpepper.org.uk/they-shall-not-pass-feminists-on-the-front-line/Illustration: Tomekah George