Greta Thunberg yang berhasil memimpin aksi mogok global untuk perubahan iklim pada 15 Maret 2019, yangmana aksi tersebut diikuti oleh 71 negara dan berlokasi pada 700 tempat yang berbeda, akhir-akhir ini banyak disoroti oleh media massa. Greta, seorang gadis yang masih berusia 16 tahun itu memiliki semangat juang yang tinggi untuk mengkampanyekan permasalahan krisis lingkungan. Menurutnya, faktor besar yang mempengaruhi perubahan iklim berasal dari jumlah emisi gas yang kian meningkat. Dalam sebuah kampanye publik Greta mengatakan, “Penghasil emisi gas lebih banyak diproduksi oleh perusahaan dan pemerintah dari pada perorangan.

Nama Greta Thunberg yang naik daun ini tentu saja tidak dengan tiba-tiba dan tanpa perjuangan panjang. Sebagai seoarang gadis berusia 16 tahun, ia telah berhasil keluar dari segala bentuk pendisiplinan atas konstruk sosial terhadap dirinya. Sejak Agustus 2018 lalu, setiap hari Jumat, dengan berani Greta memilih untuk membolos sekolah dan konsisiten melakukan aksi seorang diri di depan gedung Parlemen Swedia dari pagi hingga sore. Dalam melakukan aksi seorang diri tersebut, Greta membawa papan tuntutan agar pemerintah menentapkan aturan untuk menanggulangi perubahan iklim.

Sebagai seorang ekofeminis, Greta juga memiliki kekuatan tersendiri yaitu bagaimana ia bisa memiliki kedekatan emosional yang sedemikian lekat dengan bumi. Ketika usia Greta 8 tahun, pada sebuah kesempatan di ruang kelas, Greta bersama teman-temannya menonton sebuah film yang menggambarkan tentang kerusakkan iklim. Sejak saat itu Greta memutuskan mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari tentang faktor-faktor perubahan iklim dan cara mengatasinya. Tidak berhenti di situ, Greta dengan sangat totalitas juga melawan perubahan iklim dengan mempraktikannya langsung untuk dirinya dan keluarganya, yaitu dengan menerapkan gaya hidup hemat energi dan memilih untuk menjadi seorang vegan.

Konsistensi serta totalitas Greta dalam melawan pemanasan global juga menuai rintangan yang tajam. Dalam beberapa pemberitaan, Greta divonis sebagai seorang autis dan memiliki sakit mental akibat rasa ketakutan berlebihan terhadap perubahan iklim. Menanggapi hal tersebut, dengan santai Greta justru berkata demikian: “aku autis, aku mampu melakukan hal yang sama berkali-kali.”

Selain membuka mata tentang pentingnya menjaga kesehatan bumi, perjuangan Greta juga menginspirasi para aktivis tentang suatu model pengorganisiran yang totalitas dan konsisten. Dalam aksi kampanyenya terhadap permasalahan krisis lingkungan, Greta tidak pantang menyerah berkeliling Eropa selama enam bulan untuk menyebarkan gagasan tentang pentingnya peduli terhadap kesehatan lingkungan. Dalam perjalanan mengelilingi Eropa, ia pun memilih menggunakan  transportasi yang dapat meminimalisir tinggkat emisi yaitu kereta, bus dan mobil elektrik.

Jiwa sensitivitas yang tinggi terhadap keadaan krisis lingkungan ini, adalah sumber utama yang mendasari langkah besar Greta untuk terus mengkampanyekan kesehatan bumi. Greta telah membuka mata-jiwanya untuk meminimalisir pemanasan global sejak kelas tiga Sekolah Dasar. Peristiwa menonton film yang menggambarkan tentang kerusakan lingkungan tersebut, adalah suatu titik yang menentukan visi hidupnya, yangmana tidak semua anak di usia delapan tahun bahkan orang dewasa sekalipun memiliki pandangan yang sangat kritis tentang dampak pemanasan global terhadap kelangsungan kehidupan bagi semua mahluk di bumi.

 

Referensi  :

https://tirto.id/masa-depan-dunia-ada-di-tangan-greta-thunberg-dan-anak-anak-ecxi

https://www.bbc.com/indonesia/media-48051696-Greta-Thunberg:saya-ingin-Anda-Panik-Hadapi-Perubahan-iklim

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47578903-Greta-Thunberg,remaja-16-tahun-yang-direkomendasikan-raih-nobel-perdamaian

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190925153127-134-433900/greta-thunberg-dapat-penghargaan-nobel alternatif

https://klikhijau.com-read/masih-16-tahun-aktivis-lingkungan-ini-dijagokan-raih-nobel-perdamaian/

 

credit picture: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190925094608-134-433728/aktivis-iklim-greta-thunberg-dihina-di-acara-televisi-as