Hari Minggu (23/6/2019), Perempuan Mahardhika bersama Federasi Buruh Lintas Pabrik & Pelangi Mahardhika menyelenggarakan diskusi publik dengan tema “Kekerasan dan Diskriminasi Berbasis Ekspresi Gender di Tempat Kerja” sekaligus merayakan ulang tahun Pelangi Mahardhika yang ke-6 tahun. Topik yang diangkat ialah tentang rekrutmen kerja yang diskriminatif. Dari berbagai pengalaman yang dibagikan oleh lima pembicara mengenai rekrutmen kerja, mereka mengatakan bahwa perusahaan sejak awal langsung menolak teman-teman yang memiliki ragam ekspresi gender yang dianggap berbeda. Walaupun diterima bekerja di tempat tersebut, teman-teman diberi catatan “identitasnya tidak boleh dipublikasikan”. Bukan hanya bullying dan pelecehan yang mereka terima ketika memilih berekspresi sesuai dengan identitasnya, tetapi juga rentan akan adanya PHK sepihak dari perusahaan.

 


Sedikit Tentang Ekspresi Gender

Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki logika dan nalar dalam berpikir. Oleh karena itu, dalam berinteraksi, manusia tidak hanya mengandalkan identitas mereka sesuai dengan jenis kelamin, tetapi juga pada ekspresi gender maupun orientasi seksual. Di sisi lain, Ekspresi gender merupakan bentuk-bentuk karakteristik yang terkait peran seseorang dengan jenis kelamin tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti gaya dan penampilan, cara berpakaian, bertingkah laku, cara berbicara atau berbagai hal yang mereka kerjakan.Oleh sebab itu, gender diklasifikasi menjadi dua yaitu maskulin dan feminin. Maskulin biasanya lebih menunjukkan kekuatan dan dominasi laki-laki, sedangkan feminin biasanya merujuk kepada hal-hal lemah lembut dan terlihat sebagai bentuk identitas kedua setelah maskulin.

 

Sebenarnya tidak ada hal khusus yang menjadi tolak ukur aturan gender, namun gender sangat terkait dengan cara pandang tradisional dan subjektifitas sehingga terdapat beberapa cara pandang yang berbeda antara tradisi satu dengan tradisi lain. Contohnya, adanya perbedaan tanggung jawab seperti di dalam berumah tangga, perempuan berurusan dengan memasak dan keperluan dapur sedangkan seorang laki-laki bekerja mencari nafkah. Dalam berpakaian, yang menandakan seseorang berjenis kelamin perempuan adalah karena memakai rok dan laki-laki memakai celana. Akan tetapi saat ini, tidak sedikit laki-laki yang menjadi koki atau chef, perempuan menjadi wanita karir, atau tidak selamanya lelaki yang berambut panjang berarti dia feminin.

 

 

Sulitnya Mengekspresikan Gender di Tempat Kerja

Di Indonesia, transgender dikategorikan menjadi dua, yaitu waria dan trans laki-laki. Dibandingkan dengan trans laki-laki, di Indonesia trans perempuan dianggap lebih dominan dan lebih sering terlihat. Tidak jarang, trans perempuan mengalami berbagai persoalan dalam dunia kerja terkait identitas dan ekspresi gender mereka. Trans perempuan, dalam hal ini mendapat diskriminasi dalam mencari pekerjaan, terutama dalam sektor formal seperti dalam pekerjaan seperti mengajar, perbankan bahkan salon menengah atas yang dianggap ‘aman’ untuk mereka. Ekspresi gender yang terbuka ternyata menimbulkan dilema tersendiri ketika mereka dengan terbuka menunjukkan visibilitas atas ekspresi gender mereka di dunia kerja. Persoalan yang umumnya dihadapi oleh waria dan trans laki-laki muda di dunia kerja terkait dengan isu registrasi diri. Indonesia adalah salah satu negara yang dengan spesifik mencantumkan informasi atas jenis kelamin biner (perempuan dan laki-laki) di dalam KTP sebagai standar informasi diri.

 

Menurut Kevin Halim dari Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL Ina), tantangan awal yang dihadapi teman-teman trans perempuan dan trans laki-laki ialah ketika situasi interview kerja. Ketika interview kerja menanyakan gender dan bukan menanyakan keahliannya dalam bidang yang dituju, diskriminasi sangat dirasakan oleh teman-teman transgender. Perusahaan meremehkan kemampuan teman-teman transgender karena pilihan gender yang mereka pilih. Perusahaan memiliki pandangan dan prasangka yang buruk terhadap teman-teman transgender. Seringkali tahap recruitment langsung di block oleh perusahaan ketika menemukan ada teman-teman transgender yang ingin melamar di tempat kerja tersebut. Perusahaan semaksimal mungkin menolak untuk menerima teman-teman transgender bekerja di tempat yang dituju karena tempat kerja berusaha menghindari image buruk perusahaan.

 

Menurut Ryan Korbarri dari Arus Pelangi, banyak sekali tempat kerja di Indonesia lebih kritis dengan ekspresi gender daripada skill yang dimiliki oleh seseorang. Seharusnya tempat kerja memperhitungkan skill dan kemampuan kerja teman-teman transgender karena identitas gender tidak memengaruhi produktivitas kerja. Pandangan terhadap teman-teman trangender selalu diwarnai oleh praduga buruk seperti takut memengaruhi teman kerja dan kinerjanya buruk. M. Isnur, Kabid Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ikut menambahkan bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia merasa terancam dengan keberadaan LGBT. Negara kurang mendukung mengenai keberagaman gender yang ada di sekitar masyarakat. Walaupun kertas (hukum) melindungi hak warga negaranya, sangat sulit bagi teman-teman transgender merasakan hal ini.

 

Kontributor: Hosyea Gracecio P