“Madunya sekarang udah masuk kerja, satu line lagi sama dia,” ujar salah seorang temanku di PT tempat aku mengais pundi-pundi di Jakarta Utara.  “Madu” dalam masyarakat kita dikenal untuk sebutan istri kedua.  Sementara “line” yakni kelompok barisan panjang proses produksi sebuah pakaian di pabrik garment. Artinya, temanku bertemu dan bekerjasama setiap hari dengan istri muda suaminya karena mereka berada dalam satu kelompok kerja.

Namaku Ajeng, aku ingin berbagi kisah yang mungkin banyak dialami perempuan di luar sana. Kisah ini memang tidak merepresentasikan seluruh perempuan pekerja di muka bumi tetapi sebagai contoh bahwa selain pola pikir yang patriarkal perempuan kerap dilema dengan pilihan hidupnya. Ada banyak hal yang mempengaruhi, yang jelas bila bicara kalangan sudah pasti berbeda, atas, menengah dan bawah membentuk pola-pola permasalahan yang beraneka.

Aku selalu tersentak mendengar gosip terkait poligami.  begitu menyentak, sebab tiap aku mendengar kisah poligami. Dalam beberapa tafsir Islam menganggap agama memperbolehkan poligami, mempermudah laki laki  memukan alasan untuk beristri lebih dari 1 bahkan sampai. Dan biasanya perempuan di iming imingi surga jika mau dipoligami dan perasaan sakit karena cemburu itu dianggap “ibadah.”

Di tengah rutinitas pekerjaan pabrik garmen, gosip itu semakin meluas. Aku sungguh terkejut dan entah kenapa ada perasaan sakit di hati. Terlebih, perempuan itu merupakan teman lamaku. dia baru saja masuk ke pabrik tempatku bekerja dengan jabatan yang berbeda dariku.  Dia asisten supervisor. Kebetulan suaminya temanku juga, yang bekerja di pabrik yang sama dengan  ini juga bekerja di pabrik yang sama di posisi yang berbeda.

Lama kami sudah tidak berbincang. Tentu saja, banyak cerita yang ingin kudengar darinya. Memang bekerja di garmen, dengan ribuan orang pada satu pabrik dengan target tinggi, membuat buruh kerap tak punya waktu saling bicara satu sama lain. Apalagi, kami dikejar target produksi yang tinggi.

Aku memang tahu kalau suaminya menikah lagi dengan alasan temanku tak punya anak, tapi aku tak disangka kalau mereka bertiga bisa 1 tempat kerja seperti ini. Mereka datang dan pulang kerja naik satu motor bertiga. Dari wajah 2 perempuan itu tampak jelas ketidaknyamananya.  . Sedangkan, si suami cuek saja. Pemandangan yang semakin membuat hatiku ngilu.

Lambat laun akhirnya kutemukan  waktu yang tepat untuk mengorek isi hati temanku ini.  Aku memulai topik dengan kalimat provokatif.

‘’Teteh kan cantik kenapa sih teh bertahan dengan keadaan seperti ini? “

“Ya dia orangnya keras Jeng, mangkanya teteh ga berani banyak ngomong sama dia,” jawab teman ku.

Aku memburu dengan pertanyaan selanjutnya, “Emang teteh ga cape di perlakukan kaya gitu?”  dia terdiam dengan wajah muram. Tanpa kata-kata, ekspresinya seakan menjawab pertanyaan ku.

Semakin gereget aku, “Teteh, suamimu dengan istri keduanya juga tidak punya anak kan? Jadi apalagi yang Teteh beratkan dari suami semacam itu”

“Ya Teteh masih binggung harus gimana lagi, siapa sih yang mau jadi janda” jawab teman ku dengan suara memelas. Tidak lama kemudian, bel  berbunyi pertanda mesti kembali ke tempat kerja masing masing.

Lebih Menyakitkan Derita Poligami

Sejak kecil, perempuan sering didoktrinasi tentang impian pernikahan dan komitmen seumur hidup yang bahagia. Mulai dari boneka barbie yang berpasangan dengan “sang pangeran tampan” hingga novel-novel teenlit untuk remaja perempuan atau cerita-cerita cinta di televisi.  Kisah-kisah itu, dibarengi dengan wejangan-wejangan konservatif dari orang tua, meletakan beban rumah tangga seolah-olah pada istri semata. Seperti rencana yang belakangan dihujani tentang kritik soal,  Sekolah Ibu dari pemerintah Bandung Barat. Gagasan-gagasan itu seolah-olah menyampaikan dan melegitimasi bahwa kegagalan rumah tangga berasal dari pihak istri.

Struktur sosial kita yang membuat para perempuan selalu disalahkan apabila ada yang tidak berjalan baik dalam rumah tangga. Sehingga membentuk ketakutan pada perempuan akan stigma janda.  Ketika mereka ingin lepas dari ‘neraka’ yang mengatasnamakan rumah tangga itu.

Selama ini, teman ku menerima dipoligami sebab merasa bersalah tidak mampu memberikan keturunan pada suaminya. Faktanya, suaminya menikah lagi pun belum juga dikaruniai anak. .

Ya, buruh perempuan di garment memang sangat punya banyak ketakutan. Lingkungan kerja yang tidak ramah terhadap perempuan membuat kita sangat rentan terkena pelecehan verbal apalagi terkait stigma janda. Stigma janda yang negatif melekat kuat di kelas buruh yang mayoritas bependidikan rendah dan dibesarkan dalam budaya patriaki. Patriarki menilai seolah-olah janda itu bernilai lebih rendah dari gadis dan diasosiasikan dengan perempuan nakal.

Selang beberapa hari setelah pembicaraan terakhir, tiba tiba dia menghampiriku. “Jeng kamu kan juga bercerai, mahal ga sih biayanya?” tanyanya.

Terkejut. Sekaligus bercampur senang.

Dengan antusias aku jawab “Ga kok teh sekitar satu juta itu juga kalau biaya prosesnya ga sampai segitu dikembalikan lagi sisa uangnya.”

Tampak antusias, temanku ini lanjut bertanya ,“Kalau istri yang urus susah ga Jeng? “

“Ga kok Teh lebih gampang sekarang dari pada zaman dulu,” Jawabku lagi menyemangati.

Kata-kata terakhir sebelum dia kembali ke tempat kerjanya adalah “Iya jeng, teteh cape.”.

Sayangnya tidak lama kemudian aku keluar dari pabrik itu. Alhasil, aku tidak tau lagi bagaimana kelanjutannya. Apakah temanku benar mengajukan perceraian atau tidak.

Menjanda dari 2016 hingga sekarang, tentu saja aku sudah melewati banyak pelecehan terhadap statusku, hingga penghinaan atas tubuh ku.  Para pria patriarkis menganggap karena aku janda lantas aku bisa menjadi sasaran nafsu mereka. Tapi semakin aku dihina, justru membuatku merasa bahwa aku harus melawan. Dan bukan ingin mempengaruhi perempuan agar menjadi janda tapi meyakinkan perempuan lain bahwa hubungan sesakral pernikahan yang mestinya membahagiakan bagi istri dan suami. Jika salah satunya saja yang bahagia maka kesakralannya sudah berganti jadi jerat yang sewaktu-waktu bisa mencekik. Membunuh semua harapan.

Penulis : Ajeng Pangesti Anggriaini