Alexandra Mikhailovna Kollontai atau biasa dikenal dengan Alexandra Kollontai lahir di St. Petersburg pada tanggal 31 Maret 1872. Ia adalah tokoh utama gerakan sosialis Rusia pada pergantian abad melalui revolusi dan perang sipil. Kollontai memainkan peran penting dalam mengupayakan gerakan sosialis Rusia untuk mengatur pekerjaan khusus di kalangan perempuan dalam mengorganisir gerakan massa perempuan kelas pekerj dan petani. Ia juga merupakan bagian dari penulis undang-undang sosial di awal berdirinya republik Soviet.

Ia meniti karir politiknya pada tahun 1894. Melalui aktivitas itu, ia banyak terlibat dalam pekerjaan publik a yang dilakukan scara sembunyi-sembunyi bersama Political Red Cross: organisasi yang dibentuk untuk membantu tahanan politik. Buku Woman and Socialism punya pengaruh besar atas gagasan dan aktivitasnya

Pada tahun 1896, Kollontai mulai melirik industri kapitalis di sebuah pabrik tekstil. Tempat suaminya bekerja. Muncul kesadaran lantaran menyaksikan ketertindasan para pekerja perempuan. Setelah itu, ia turut aktif dalam penyampaian dan penggalangan dana guna mendukung pemogokan massal pekerja tekstil yang mengguncang daerah Petersburg hingga sisa karir politiknya. Ia sempat menulis polemik melawan Edouard Bernstein namun tul dilarang terbit oleh berbagai pihak. Pada tahun 1899, ia memulai pekerjaan bawah tanahnya untuk Partai Buruh Demokratik Sosial Rusia (RSDLP).

Kollontai, seperti banyak kaum sosialis Rusia lainnya, bersikap netral dalam perpecahan Bolshevik-Menshevi. Pada tahun 1904, ia bergabung dengan faksi Bolshevik dan mengadakan kelas tentang Marxisme di sana. Pada tahun 1905, ia bergabung dengan Leon Trotsky dalam menekan sikap yang lebih positif terhadap Soviet yang saat itu baru saja berdiri. Saat itu, ia menjadi bendahara Komite Sosial Demokrat St. Petersburg. Pada tahun 1906, ia meninggalkan Bolshevik untuk memboikot pemilihan umum Duma.

Dari tahun 1905 sampai 1908, Kollontai memimpin kampanye yang menyebabkan namanya tercatat dalam sejarah;kampanye untuk mengatur pekerja perempuan Rusia memperjuangkan kepentingan mereka sendiri, melawan pengusaha, melawan feminisme borjuis, dan jika perlu (seperti yang sering terjadi) melawan konservatisme dan chauvinisme dari organisasi sosialis. Pada akhir tahun 1908, setelah tiga bulan dihabiskannya untuk menghindari penangkapan, Kollontai akhirnya terpaksa melarikan diri ke pengasingan. Dia bekerja sepenuhnya sebagai agitator untuk Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD).

Pada tahun 1914 ia mengorganisir massa di Jerman dan Austria melawan perang yang akan datang, namun ia ditangkap dan dijebloskan ke jeruji besi setelah perang pecah. Diketahui, ia pindah ke Skandinavia dan menjalin kontak dengan V. I. Lenin. Tak lama setelah itu ia mengasingkan diri di Swiss. “Who Needs War” pamflet yang disebar saat penyelanggara utama konferensi Zimmerworld melawan perang tahun 1915.

Ketika revolusi Februari 1917 pecah, Kollontai berada di Norwegia. Ia menunda kembali ke Rusia cukup lama untuk menerima “Surat-surat dari Afar” milik Lenin.  Dibawanya surat-surat itu ke organisasi di Rusia. Sejak kedatangannya, ia bergabung dengan Alexander Shlyapnikov dan V. M. Molotov membuat kebijakan yang kontra pemerintahan  saat itu, melawan oposisi Kamenev dan Stalin. Ia terpilih sebagai anggota komite eksekutif Soviet Petrograd (di mana ia terpilih sebagai delegasi dari unit tentara). Pada pertemuan sosial demokrat 4 April, ia adalah satu-satunya pembicara selain Lenin untuk mendukung tuntutan “All Power to Soviets.”

Kollontai salah seorang agitator perempuan yang komit untuk revolusi di Rusia.. Pada bulan Juni ia menjadi delegasi Rusia di Kongres ke-9 Partai Sosial Demokrat Finlandia. Selama periode ini, ia bergabung dengan aktivis perempuan lain dalam menekan kaum Bolshevik dan serikat pekerja untuk lebih memperhatikan pengorganisasian pekerja perempuan, dan membantu memimpin pemogokan pekerja di seluruh kota di Petrograd.

Pada bulan Oktober 1917, Kollontai berpartisipasi dalam pembuatan keputusan untuk meluncurkan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah. Pada Kongres Soviet Kedua, ia terpilih sebagai Commissar of Social Welfare di pemerintahan Soviet yang baru. Pada tahun 1918, ia memimpin sebuah delegasi ke Swedia, Inggris dan Prancis untuk meningkatkan dukungan bagi pemerintah baru. Selama sisa tahun 1918, ia aktif sebagai agitator dan organisator, dan memainkan peran kunci dalam mengatur Kongres Pekerja Perempuan dan Perempuan Pertama “All-Rusia” (November 1918).

Sepanjang tahun 1919, meski mengalami sakit jantung,ginjal dan menderita tifus, Kollontai tetap progresif. Ia memiliki jadwal rapat, pidato yang melelahkan. Ia menjabat sebagai delegasi Kongres Pertama Komunis Internasional, Presiden Departemen Politik Republik Krimin, Commissar of Propaganda and Agitation for the Ukraine, dan seorang aktivis di Bagian Perempuan yang baru dibentuk dari Partai Komunis (zhenskii otdel, atau “Zhenotdel” singkatnya), yang ia, Inessa Armand dan Nadezhda Krupskaya adalah pemeran utama dalam pendirian organisasi tersebut.

Penyakit Kollontai berlanjut sampai tahun 1920.  Setelah kematian Inessa Armaand ia didapuk menjadi kepala Zhenotdel. Di Kongres Rusia menjadi momen tak terlupa baginya, sebab Kolonntia terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif. Pada kongres tersebut, dia bergabung dengan “Oposisi Pekerja”. Sebuah oposisi di Partai Bolshevik yang menentang birokratisasi  Soviet. Pada kongres partai ke-10 Maret 1921, anggota Oposisi Pekerja terus aktif sebagai pemimpin Partai Bolshevik dan Soviet. Kollontai terpilih kembali ke komite eksekutif All-Rusia di Soviet pada bulan Desember. Pada tahun 1922, ia adalah salah satu yang menandatangani “Surat 22”. Surat yang ditujukan kepada Komunis Internasional  memprotes pelarangan faksi-faksi di Rusia.

Penulis: Annisa Nurul Jannah