Memperingati 90 tahun Kongres Perempuan Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), Perempuan Mahardhika, dan Radio Komunitas Marsinah FM menggelar Opera Buruh bertajuk “Derap Perempuan Membangun Bangsa Melawan Penyingkiran” di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Minggu, (23/12/2018).

“Bahkan ketika negara belum jujur menghidupkan sejarah perempuan. Rebut kembali sejarah gerakan perempuan! Rebut kembali sejarah pergerakan perempuan!” tegas Jumisih selaku Ketua Umum FBLP saat memberi sambutan sebelum opera dimulai.

Jumisih mengutarakan “Acara hari ini mengenang kembali tonggak-tonggak penting dan pergerakan perempuan. Kami sengaja menjahit acara ini untuk tidak sepi. Dengan nuansa santai, akan dihiasi dengan dangdut koplo, bahkan kami menyebutnya bukan konferensi pekerja yang diselingi seni tapi seni yang diselingi konferensi buruh perempuan pekerja dalam opera buruh perempuan”

Ia menambahkan bahwa organisasi perempuan telah lantang menyuarakan bahwa perempuan harus merdeka dengan sepenuhnya sebagaimana kaum laki-laki. 90 tahun [setelah] kongres, perempuan belum mendapat kesetaraan Jumisih menyebutnya penyingkiran perempuan.

Opera sebagai Bentuk Perlawanan

Opera terdiri dari empat babak, babak pertama bertajuk poligami dan perjanjian nikah. Kedua dengan tema organisasi dan pergerakan perempuan, ketiga pendidikan dan perkawinan anak, keempat hak perempuan di tempat kerja.  Tiap babaknya tidak kurang dari 15 menit diselingi dengan iringan dangdut koplo dan diakhiri dengan pembacaan kitab sejarah

Opera dibuka dengan lantunan lagu Ibu Kita Kartini oleh dua sinden. Selanjutnya, dipandu Dalang Teteh dan Kakak Dalang yang mengatur jalannya opera. Selain opera yang disajikan ada spot khusus Kitab Sejarah, mengulas bagaimana sejarah berbicara atas kiprah-kiprah perempuan. Kitab sejarah itu dibacakan oleh Dian Septi Trisnanti selaku Sekretaris Jenderal FBLP.

Sebelum memasuki pertunjukkan kedua dalang itu membawa caping.  Simbol perlawanan ketika perempuan buruh pada waktu itu memperjuangkan hak-haknya. Pasalnya pada tahun 1926 terdapat aksi protes buruh perempuan di Semarang yang kemudian dikenal sebagai Aksi Caping Kropak. Kongres perempuan pertama (1928) belum ada perwakilan. Dari data yang dihimpun oleh panitia hal ini dilatarbelakangi pemberangusan dan pengasingan aktivis-aktivis serikat buruh termasuk perempuan akibat pemberontakan kelas pekerja 2 tahun sebelum Kongres yaitu pada 1926.

Teteh Dalang menuturkan dalam prolognya bahwa dalam aksi tersebut, buruh perempuan menuntut tentang upah layak, sistem kerja yang adil, perlindungan kerja, penghapusan buruh anak, dan penolakan poligami.

  1. Babak pertama dengan judul Poligami dan Perjanjian Nikah
    Adalah Tami seorang buruh pabrik, sosok perempuan yang semasa muda kerap ditawari fasilitas yang menggiurkan untuk dijadika istri kedua. Ia memulai bercerita tentang kisah cintanya di masa lalu.

    Atasannya di pabrik mendekatinya, orangnya bersih, berkumis tipis, tapi kalau ngomong agak mesum dan ia risih. “Di whatsapp chat aku cuekin ditelfon ngga aku angkat. Untung di awal kerja aku sudah kenal serikat jadi aku lebih  waspada. ” Belum berhenti sampai sana ia mendapat penawaran menjadi buruh tetap dengan syarat harus mau menjadi istri kontrak.  Ia lantas marah dan membentak atasannya terebut “Emang aku perempuan apaan!”  lalu kontraknya tidak di perpanjang.

    Tempat ia ngekos pun tak jauh beda. Tami diiming-imingi fasilitas dengan memberinya kalung emas, AC di kamarnya asal ia mau menjadi istri kedua, ia menolak. Sebab kepuitisan Bagyo ia menerima pinangan dan menikahinya dengan membuat surat perjanjian bermaterai salah satu isinya bebas beraktivitas dan berkembang. Jadilah ia pasangan aktivis, Tami menjadi ketua serikat buruh dan Bagyo menjadi ketua serikat sopir.

  2. Babak ke-2 dengan judul Organisasi dan Pergerakan Perempuan

Memunculkan tiga orang bajak laut yang tengah dilema lantaran pekerjaan tersebut menuntutnya jauh dari keluarga. Satu sisi, istri-istrinya di rumah pun bekerja dan tetap harus mengurus anak tentu saja dengan rumah. Sisi lain merasa iba dan berdosa.  Salah satu bajak laut memutuskan mundur dari pekerjaanya agar bisa bekerja di tempat yang tidak terlalu jauh sehingga bisa berbagi peran dengan istri. Pun istrinya, aktif di serikat buruh dan ia ingin mengikuti jejaknya.

  1. Babak Ke-3 dengan judul Pendidikan dan Kawin Anak
    Ketika penjual jamu tengah menawarkan jamunya . Datanglah seorang perempuan buruh yang dilema ditinggal pacarnya lantaran ia mengambil keputusan untuk kursus menyanyi. Sayangnya, keputusan itu tidak didukung oleh kekasinya.

    “Jadi perempuan harus kuat dan percaya diri. Perempuan banyak beban bahaya kalau gampang galau. Petuah Mbok Jamu Merasa ketika muda tidak memiliki kesempatan makla ia tak membiarkan anak-anaknya mengalami apa yang ia arsakan anpa pendidikan.”

    Ia menambahkan “Karena pengetahuan sebagai bekal hidup. Selain pendidikan yang dibutuhkan adalah kesempatan berkarya. Masih banyak perempuan yang belum mendapat kesempatan bekerja di luar rumah.”

    Belum selesai menghadapi masalah pribadinya, adik dari perempuan itu memesan jamu agar dewasa lebih cepat. Sontak ia dan Mbok Jamu marah terlebih mendengar alasan keinginannya ingin menikah di usia dini yang belum cukup memenuhi persyaratan dari segi usia.

  1. Babak Ke-4 dengan judul Hak Perempuan di Tempat Kerja
    Diceritakan oleh seorang petani yang istrinya kerja di sebuah pabrik. Sayang bahkan untuk mendapat cuti haid dari tempat istrinya bekerjapun nihil. Menurut Pak Tani, istrinya kerap mengeluh atas permasalahan yang melingkupi di tempat kerja mulai dari ekspolitasi jam kerja, tenaga kerja dan  maraknya pelecehan seksual. Dalam rangka menghadiahi istrinya kala berulang tahun ia membuat puisi salah satu penggalanya sebagai berikut negara akan runtuh kalau tidak ada buruh. Sebuah sarkas untuk pemerintah dan pemegang saham di pabrik. 

    Kita tahu negara tanpa buruh runtuh /Maka kita berani yakin dan menang /Maka kita tidak perlu ragu /Di pabrik buruh ibu tanpa jaminan/Di kantor buruh ibu dijucilkan /Di toko-toko buruh ibu kakinya memar/Di semua tempat kerja, buruh ibu sakit hati /Di semua tempat tak boleh menyusui.


    Itulah ringkasan dan poin penting yang ada di tiap opera yang sudah ditampilkan. Narasi dan dialog yang dibangun sederhana, tetapi sarat akan makna. Mengingatkan hak perempuan yang harus terus diperjuangkan.Penulis : Anisa Dewi Anggriaeni