Ini adalah perjalanan hidupku, dimana aku adalah seorang LBT. Awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang aku alami saat ini. Aku bingung dengan semua perasaan, aku yang selalu menyukai perempuan dari pada laki-laki.

Pada saat aku masih berusia empat atau lima tahun, aku selalu berteman dengan laki-laki daripada perempuan. Memang penampilan aku saat itu tomboy, sampai orang-orang di sekitarku memandang aku berbeda dari pada anak yang lain. Sampai ada yang berkata pada keluargku bahwa,  karena aku selalu bermain dengan anak laki-laki, kalau sudah besar akan tidak normal dan akan menyukai sesama jenis. Tapi ibuku selalu membelaku dimanapun aku dihina atau aku dipermalukan oleh orang-orang. Dan ayahku juga mendukung aku jadi tomboy. Karena menurut ayah gak ada salahnya juga anak memilih  pilihan hidupnya dari sejak dini, dan kita sebagai orang tua harus menghargai pilihan anak-anak kita.  Ayah selalu menguatkan ibu agar selalu berfikir positif terhadap  anak-anaknya.

Usiaku memasuki enam tahun, aku masuk sekolah Taman Kanak-kanak (TK). Guru TK-ku baik, ramah, dan penyayang.  Cuma, orang-tua murid lain berpandang lain terhadapku, karena penampilanku yang amat sangat tomboy.  Tidak pernah sama sekali mengenakan rok, dan berambut layaknya anak laki-laki.

Suatu saat, ibuku sakit hati terhadap orang yang menghinaku di  tempat  bermain di depan sekolah TK. Kepada guruku, ibu berkata, “apakah disini anak tomboy dilarang sekolah dan menuntut ilmu? Di mana cara pandang kalian semua di sini, anak saya berhak sekolah meskipun dia berbeda penampilan dari pada yang lain. Apa harus yang sekolah di sini dengan penampilan feminim.”

Ibu guru berkata “tidak bu, disini kita tidak membatasi ruang gerak anak. Kami minta maaf atas ketidak nyamanan ibu di sini karena orang tua murid yang lain mungkin belum paham atau mengerti anak tomboy”

Selagi ibu guru dan ibuku berdebat, aku mendengarkan dengan sangat sedih. Aku berfikir,  apakah salah berpenampilan seperti ini. Tapi yang aku tahu, aku bukan perempuan tapi aku laki-laki.

Selang beberapa hari diadakan pertemuan orangtua murid dan guru, membahas kejadian kemarin, yaitu kejadian anak-anak perempuan dilarang bermain denganku.  Ibuku menerangkan bahwa aku tomboy dan tidak mau berpakaian perempuan. Jadi,  jangan disudutkan kepada anak saya untuk hal-hal yang menurut kalian salah atau benar. Anak saya masih kecil dan belum paham dalam berpenampilan. Jadi tolong harap maklum untuk semua orang tua murid untuk mengerti keadaan anak saya, dan tidak membatasi ruang bermain untuk dia.

Tahun 1999, aku didaftarkan sekolah SD di Wirasuasta, Jakarta Utara.  Awal yang sangat mengecewakan buat aku di mana aku harus mengenakan rok dan hijab. Tapi apa boleh buat, demi kemauan orangtuaku yang ingin aku pintar dan berbakat nantinya di kemudian hari. Pertama kali aku mengenakan rok dan hijab itu sangat memalukanku. Teman-teman menghina dan mengajekku. “Bukannya lu cowok yah, kok  pake rok dan kerudung.”

Saat itu aku malu dan ingin pulang, tidak mau sekolah lagi. Sampai kedua orang tuaku marah karena aku tidak ingin sekolah lagi. Selama beberapa bulan aku diantar dan dijemput ayah. Karena ayahku tidak ingin aku diganggu oleh teman-teman baruku. Selang beberapa bulan aku sekolah di sana anak-anak sudah mulai menerimaku lagi. Dan pada saat itu aku sudah tidak lagi diantar oleh ayahku.

Hingga pada saat acara ulang-tahunku yang kedelapan, aku disuruh mengenakan pakaian anak perempuan, yaitu gaun.  Aku sok besar saat itu, aku menolak mengenakannya. Tapi tetap saja kakakku memaksa untuk mengenakannya, karena  menurut dia nanti banyak tamu dari kawan-kawan dia yang datang. Sampai aku di make-up mengenakan rambut-rambut palsu panjang yang menurutku menyiksaku. Dan terjadi lagi hal yang tidak aku inginkan, bully yang selalu datang padaku di sela-sela acara ultahku. Aku menangis, lari ke kamar untuk membuka semua pakaian yang menurutku bukan pakaian yang aku inginkan.

Di saat aku menangis tersedu-sedu, ayahku datang dan peluk aku, lalu bawa aku pergi ke toko mainan. Di sana aku dibelikan bola sepak agar supaya tidak sedih lagi. Sepulangnya beli mainan, kakak-kakakku di nasehati oleh ayahku, bahwa aku itu tomboy. Jadi jangan paksa adikmu untuk mengenakan gaun dan pakaian perempuan lainnya. Kasihan. Dia jadi sedih di acara ultahnyakan. Kakak-kakakku hanya diam dan menunduk. Setelah kejadian itu, kakak-kakakku selalu membelikan aku mainan dan pakaian anak laki-laki pada umumnya.

Setelah lulus SD, aku pindah sekolah ke Madura, Jawa Timur, untuk melanjutkan  sekolah SLTP. Di sana, masalahnya masih seputar hal yang sama. Orang-orang berpandangan lain terhadapku, dan menanyakannya kepada ibuku. “Bu, itu anaknya laki-laki atau perempuan yah?” Ibuku menjawab “perempuan tomboy.” Mereka bingung dan mungkin nggak paham dengan kata tomboy. Dan pada akhirnya ada yang berkata “Oalah, bencong yah bu?” Ibuku tarik nafas dalam dan berkata, dia adalah mutiara keluarga kami yang tidak  ternilai harganya. Tolong jangan bicara seperti itu kepada saya kalau kamu masih mau menghargai saya di sini. Orang tersebut tersipu malu dan pamit pergi.  Aku hanya memperhatikan saja,  sembari dalam hati aku berkata, ”ya Tuhan, apa aku salah menjadi seperti ini, kenapa Tuhan tidak ciptakan aku menjadi laki-laki agar aku tidak dihina, dipermalukan dan bisa melindungi keluargaku dari segala marabahaya.

Beberapa bulan kemudian aku masuk sekolah pilihanku, SLTP negeri,  yang tidak dituntut harus mengenakan hijab. Aku sempat minta izin untuk mengenakan celana laki-laki, tapi kepala sekolah tidak mengizinkannya. Akhirnya aku mengikuti aturan sekolah, mengenakan rok pendek di sekolah  tapi tetap saja perilaku aku sebagai tomboy kuterapkan di lingkungan sekolah yang baru. Hingga pada saat, aku mengenal apa itu cinta. Aku jatuh hati dengan perempuan.

Hari-hari kulalui, banyak yang suka dengan penampilanku, ada juga yang tidak menyukainya.  Tapi tetap aku bertahan di sekolah tersebut, karena lebih banyak yang mendukung dari pada yang tidak. Hingga terbentuk sebuah gang yang bernama GISTAR (gila dikit tapi pintar). Memang kami terdiri dari anak-anak yang nakal, tapi kami semua bisa menjamin kepintaran kami. Anggotanya termasuk anak laki-laki. Pemimpin gang tersebut adalah aku sendiri,  yang mencari kawan-kawan tomboy yang lain juga. Banyak hal yang kita alami bersama. Dari asmara, pelajaran, kabur di jam pelajaran dan dihukum bersama.

Aku merasa aku sudah diterima di lingkunganku yang baru. Aku merasa senang ketika kawan-kawan mendukung aku. Pada saat aku merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan, aku sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah aku salah telah menyukai perempuan? Kenapa aku selalu jatuh hati pada perempuan? Kenapa tidak dengan laki-laki? Tapi, ya sudahlah. Semoga keluargaku tidak mengetahuinya. Setiap kali aku harus menyimpan perasaan ini. Aku takut pada saat itu dia tidak menerimaku, karena menurut agama, itu adalah menyimpang dan melanggar aturan yang ada di agama.

Beberapa tahun kemudian aku memasuki sekolah SMA dan mengikuti sekolah Extra kedokteran, yang berlokasi di Surabaya,  tapi dipindah di Madura. Letaknya di dekat  kampus Universitas Trunojoyo (UNIJOYO). Awalnya, cita-citaku adalah menjadi TNI.  Tapi aku tidak lulus ujian,  karena banyak tindik di telinga, hidung, lidah dan bibir.

Akhirnya aku bersedia sekolah extra yang diajukan oleh kedua orang tuaku.  Walaupun pada akhirnya aku harus berhenti di tengah pelajaran, dan memilih untuk pergi ke Jakarta bersama ibuku. Aku bangga menjadi anak dari ayah dan ibu ku, karena mereka selalu menerima apapun pilihan hidupku. Sampai kapanpun tidak ada yang bisa menggantikan mereka.

Dan aku bangga bertemu dengan Pelangi Mahardika yang telah memberikan pendidikan tentang apa itu LBT, dan meyakinkan aku bahwa LBT bukan penyakit, LBT tidak menular, dan LBT bukan sampah masyarakat. Di sini aku menegaskan, dari pengalaman pribadiku, tidak ada paksaan dan tidak dibuat-buat semata.  Bahwa aku  LBT sejak lahir, dan bukan didapat karena tertular. Sampai saat ini aku bangga menjadi LBT. Bagiku, itu adalah pilihan hidup.

Ditulis oleh seorang buruh perempuan anggota Pelangi Mahardhika, Eghe

Image credit : ciricara.com